Ada Apa di Balik Turunnya Nilai Mata Uang Jepang
Nilai tukar yen Jepang terus melemah hingga mendekati 154,5 per dolar AS, level terendah dalam sembilan bulan terakhir. Pelemahan ini terjadi karena investor mulai lebih berani mengambil risiko setelah muncul harapan bahwa pemerintahan Amerika Serikat akan segera dibuka kembali. Akibatnya, permintaan terhadap yen sebagai mata uang “safe haven” atau tempat berlindung aman pun menurun.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, juga memberikan sinyal bahwa pemerintahnya akan menetapkan target fiskal baru untuk memungkinkan pengeluaran yang lebih fleksibel. Langkah ini memperkuat ekspektasi adanya kebijakan fiskal yang lebih longgar di bawah pemerintahan baru. Ia bahkan meminta Bank of Japan (BOJ) untuk berhati-hati dalam menaikkan suku bunga, meskipun sebagian pembuat kebijakan ingin mempercepat proses pengetatan moneter.
Di sisi lain, pejabat ekonomi Jepang memperingatkan dampak negatif dari pelemahan yen yang terlalu dalam. Menteri Revitalisasi Ekonomi, Minoru Kiuchi, mengatakan bahwa yen yang lemah bisa membuat harga barang impor naik dan menekan konsumen lokal. Pemerintah kini dihadapkan pada dilema: menjaga daya beli masyarakat sambil tetap mendorong pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan yang longgar. (az)
Sumber: Newsmaker.id