Dolar AS Melemah, Risiko Inflasi Mereda
Indeks dolar Amerika Serikat melemah ke level 101,2 setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi 14 bulan di 101,8 pada 24 Juni. Pelemahan ini terjadi karena risiko inflasi mulai mereda, sehingga pasar mengurangi ekspektasi terhadap besarnya kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Sentimen pasar membaik setelah Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan melanjutkan pembicaraan damai. Kedua negara sebelumnya sepakat menghentikan serangan terbaru, sehingga membuka peluang stabilisasi situasi di kawasan Teluk Persia.
Meredanya ketegangan juga membuat arus kapal tanker dari Teluk Persia kembali meningkat. Kondisi ini membantu menekan harga minyak mentah agar kembali mendekati level sebelum perang. Jika harga energi terus turun, tekanan inflasi global berpotensi ikut mereda.
Sebelumnya, kenaikan biaya energi menjadi salah satu alasan beberapa pejabat FOMC memperkirakan adanya kenaikan suku bunga tambahan tahun ini. Namun, tanda-tanda penurunan inflasi inti membuat pasar mulai menilai bahwa ruang kenaikan suku bunga The Fed bisa lebih terbatas.
Meski melemah, dolar AS masih mendapat dukungan dari pasar tenaga kerja yang kuat. Investor kini menunggu laporan pekerjaan Amerika Serikat pekan ini untuk melihat apakah ekonomi AS masih cukup solid. Di sisi lain, kebijakan moneter ketat juga masih menjadi perhatian karena bank sentral besar lainnya, termasuk ECB dan Bank of Japan, tetap berupaya menahan laju inflasi melalui kenaikan suku bunga.(gn)
Sumber: Newsmaker.id