Konflik AS-Iran Tekan Kilau Emas
Harga emas melemah mendekati level US$4.000 per troy ounce setelah ketegangan baru antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu kekhawatiran inflasi. Tekanan muncul setelah kedua negara saling melancarkan serangan di kawasan Teluk Persia, sehingga membuat gencatan senjata yang sebelumnya meredakan pasar kembali diuji.
Harga emas spot sempat turun hingga 0,9% setelah pada perdagangan Jumat sebelumnya menguat 1,6%. Saat berita ini ditulis harga Emas diperdagangkan di areaUS$4.061. Pelemahan ini terjadi ketika harga minyak kembali naik setelah sebuah kapal tanker pengangkut minyak mentah Qatar terkena serangan dalam rangkaian aksi balasan sepanjang akhir pekan. Gangguan di sekitar Selat Hormuz membuat pasar kembali mencemaskan risiko pasokan energi global.
Meski begitu, Amerika Serikat dan Iran dilaporkan telah sepakat untuk menghentikan serangan dan dijadwalkan bertemu pada Selasa di Doha. Kabar ini sedikit meredakan kepanikan pasar, tetapi belum cukup untuk menghapus kekhawatiran investor terhadap dampak konflik di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan terbaru ini datang setelah data inflasi Amerika Serikat masih menunjukkan tekanan harga yang tinggi, meski angkanya sesuai dengan perkiraan analis. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau PCE, yang menjadi indikator inflasi utama The Federal Reserve, naik 0,4% pada Mei. Data ini membuat pasar tetap berhati-hati dalam membaca arah suku bunga AS.
Dalam beberapa bulan terakhir, emas tertekan cukup dalam karena kenaikan harga energi ikut memperkuat risiko inflasi. Kondisi tersebut mendorong ekspektasi bahwa bank sentral dapat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Bagi emas, situasi ini menjadi tekanan karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen berbunga lainnya.
Pada perdagangan pagi di Singapura, harga emas spot turun 0,6% ke level US$4.062,47 per troy ounce. Perak juga melemah 0,8% ke US$58,67, sementara platinum dan palladium ikut bergerak turun tipis. Di sisi lain, indeks dolar Bloomberg bergerak sedikit lebih tinggi setelah sebelumnya sempat melemah 0,6%, sehingga turut menambah tekanan pada harga logam mulia.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id