Dolar Melemah, Harapan Negosiasi Timur Tengah Tekan Safe Haven
Dolar AS melemah pada Jumat (17/4) dan menuju penurunan mingguan kedua beruntun, seiring memudarnya daya tarik safe haven setelah muncul harapan kemajuan negosiasi perdamaian di Timur Tengah. Pada 09:06 ET, indeks dolar (DXY) turun 0,53% dan telah menghapus sebagian besar penguatan yang terbentuk selama perang.
Selama Maret hingga awal April, dolar menguat karena investor mencari aset aman di tengah perang Iran dan penutupan efektif Selat Hormuz. Dolar juga ditopang persepsi bahwa AS sebagai eksportir energi besar relatif lebih terlindungi dari guncangan minyak dibanding banyak negara pengimpor. Namun, retorika yang lebih optimistis terkait jalannya pembicaraan mulai mendorong pembalikan posisi, sehingga greenback kembali tertekan.
Axios melaporkan AS dan Iran sedang menegosiasikan rencana tiga halaman untuk mengakhiri perang yang mendekati hari ke-50, dengan pembahasan berpusat pada opsi pelepasan US$20 miliar dana Iran yang dibekukan sebagai imbalan penyerahan stok uranium yang diperkaya. Presiden Donald Trump juga mengatakan negosiator AS dan Iran kemungkinan bertemu akhir pekan ini untuk putaran kedua, sementara kesepakatan jeda serangan Israel–Lebanon dinilai dapat mengurangi salah satu titik sandungan dalam pembicaraan Washington–Teheran.
Di pasar utama, euro menguat 0,56% ke US$1,1848, sedangkan poundsterling relatif stabil di US$1,3527 meski sempat mendapat tekanan dari isu politik domestik Inggris. Dolar Australia bertahan di sekitar level tertinggi hampir empat tahun sebagai proksi sentimen risiko, sementara dolar terhadap yen relatif datar setelah komentar Gubernur BOJ Kazuo Ueda yang tidak memberi sinyal kenaikan suku bunga pada April.
Pasar tetap memantau risiko inflasi pascaperang yang dipicu lonjakan historis harga minyak sejak akhir Februari, serta bagaimana bank sentral merespons tekanan harga. Fokus berikutnya: headline pembicaraan AS–Iran, perkembangan implementasi jeda serangan Israel–Lebanon, arah harga energi, dan perubahan ekspektasi suku bunga global yang bisa menggeser posisi dolar lebih lanjut. (Arl)*
Sumber: Newsmaker.id