Dolar Menguat, Harga Minyak Kembali Naik
Dolar AS menguat pada Kamis (16/4) untuk pertama kalinya dalam sembilan sesi, bersamaan dengan meningkatnya permintaan terhadap posisi long-volatility. Pergerakan ini terjadi meski Presiden AS Donald Trump menyatakan prospek kesepakatan dengan Iran “terlihat sangat baik,” menandakan pasar mulai lebih fokus pada dinamika minyak dan imbal hasil AS dibanding optimisme diplomasi semata.
Bloomberg Dollar Spot Index sempat turun hingga 0,2% pada sesi Asia ke level terendah sejak 2 Maret, sebelum berbalik naik 0,1% pada hari yang sama. Penguatan dolar bergerak searah dengan kenaikan harga minyak dan imbal hasil AS, dengan yield Treasury AS tenor 10 tahun naik 2 basis poin pada Kamis.
Pergerakan mata uang menunjukkan rotasi yang sensitif terhadap komoditas. Krone Norwegia dan dolar Kanada menguat dan mengungguli mata uang utama lain seiring kenaikan minyak, sementara euro, pound, dan yen melemah. EUR/USD berbalik turun 0,2% ke 1,1780, dengan sejumlah pejabat ECB disebut condong menahan suku bunga bulan ini. Inflasi zona euro pada Maret juga dilaporkan lebih cepat dari perkiraan awal, mengindikasikan tekanan harga yang lebih kuat terkait perang Iran.
Di Asia-Pasifik, AUD/USD sempat naik hingga 0,4% ke 0,7197, tertinggi sejak Juni 2022. USD/JPY naik 0,1% ke 159,19, menguat untuk kelima kalinya dalam enam hari, sementara skew volatilitas yen bergeser lebih rendah pekan ini karena pelaku pasar mulai memosisikan peluang rebound meski ekspektasi pelebaran rentang masih terbatas.
GBP/USD turun 0,3% ke 1,3527, melanjutkan penurunan hari kedua. Di Inggris, data menunjukkan ekonomi tumbuh lebih cepat menjelang pecahnya perang Iran: produk domestik bruto naik 0,5% pada Februari, jauh di atas ekspektasi 0,1% dan menjadi kenaikan bulanan terkuat sejak Januari 2024.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id