DXY Mendekat 100, Fokus Pasar ke Inflasi Energi dan The Fed
Indeks dolar AS (DXY) melanjutkan penguatan untuk sesi kedua beruntun pada Senin dan diperdagangkan di sekitar 99,80 pada awal sesi Eropa. Dolar menguat ketika pasar kembali menambah posisi defensif di tengah eskalasi ketegangan Timur Tengah.
Faktor safe-haven menjadi pendorong utama setelah laporan Presiden AS Donald Trump memberi Iran ultimatum 48 jam untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi kemungkinan serangan terhadap infrastruktur energi. Ada pula laporan bahwa Washington menimbang operasi darat untuk mengambil alih Pulau Kharg, salah satu pusat ekspor minyak utama Iran, yang menambah risiko gangguan pasokan jangka panjang.
Dari pihak Iran, IRGC memperingatkan akan menutup selat “sepenuhnya” jika AS bertindak, sementara Teheran mengancam akan menargetkan aset AS dan Israel di kawasan, termasuk fasilitas energi, teknologi informasi, dan desalinasi. Kombinasi ancaman ini memperbesar volatilitas dan menjaga permintaan dolar tetap kuat.
Penguatan dolar juga ditopang lonjakan harga minyak yang kembali mengangkat kekhawatiran inflasi. Energi mahal berpotensi menahan ruang pelonggaran kebijakan moneter dan memperkuat narasi “higher for longer”, yang biasanya mendukung dolar melalui kanal suku bunga dan arus modal.
Pasar kini semakin mem-price in peluang kenaikan suku bunga The Fed menjelang akhir tahun. Perubahan pricing ini membuat DXY lebih sensitif terhadap indikator inflasi, pergerakan energi, dan komunikasi pejabat bank sentral.
Pada pertemuan Maret, The Fed memilih 11–1 untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75%, menandai penahanan kedua beruntun setelah serangkaian pemangkasan pada akhir 2025. Kontrak berjangka juga menunjukkan probabilitas sekitar 85,5% suku bunga tetap pada rapat April menurut CME FedWatch, sehingga pasar lebih fokus pada arah inflasi energi dan risiko geopolitik sebagai penentu langkah berikutnya. (asd)
Sumber : Newsmaker.id