DXY Naik Tipis, Hormuz Kerek Permintaan Safe-Haven
Indeks dolar AS (DXY) menguat tipis pada Senin dan bertahan di sekitar 99,65 pada awal perdagangan Eropa. Penguatan terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan persepsi pasar bahwa Federal Reserve masih cenderung hawkish, menjaga dolar tetap diminati sebagai aset defensif.
Ketegangan kembali memusat pada Selat Hormuz. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan “ancaman dan teror” justru memperkuat persatuan Iran, setelah Presiden AS Donald Trump memberi ultimatum 48 jam dan mengancam akan “menghancurkan” pembangkit listrik Iran jika jalur pelayaran tidak dibuka. Militer Iran menyatakan akan menutup selat “sepenuhnya” jika AS menargetkan fasilitas energi Iran, menambah risiko eskalasi yang bisa memperpanjang konflik.
Bagi pasar FX, meningkatnya risiko konflik cenderung mendukung dolar melalui kanal safe-haven. Ketika ketidakpastian tinggi dan arus risiko menurun, permintaan dolar biasanya menguat terhadap mata uang utama lain, terutama jika volatilitas energi ikut meningkat.
Lonjakan minyak dan harga energi juga memperkuat narasi inflasi, yang berpotensi menahan ruang pelonggaran suku bunga. Pasar menilai tekanan inflasi energi dapat membuat The Fed lebih berhati-hati, sehingga memperpanjang tema suku bunga “lebih tinggi lebih lama” yang umumnya positif bagi dolar.
Commonwealth Bank of Australia menilai jika pasar mulai mem-price in siklus pengetatan AS, dolar berpotensi menguat lebih luas terhadap mata uang lain. Dalam konteks ini, perubahan ekspektasi suku bunga—bukan hanya headline geopolitik—menjadi penentu utama arah DXY dalam jangka pendek.
Fokus data berikutnya adalah rilis awal S&P Global Manufacturing PMI AS untuk Maret yang dijadwalkan pada Selasa. Jika hasilnya lebih lemah dari perkiraan, dolar berpotensi terkoreksi karena pasar kembali menimbang risiko perlambatan, meski dukungan safe-haven dapat menahan penurunan bila ketegangan Hormuz tetap meningkat. (asd)
Sumber : Newsmaker.id