Dolar Naik Tipis, Permintaan Safe Haven Menahan Dampak Data yang Bervariasi
Dolar AS bertahan di zona penguatan tipis setelah data ekonomi AS menunjukkan pertumbuhan pada akhir tahun lalu lebih lemah dari perkiraan sebelumnya, sementara belanja riil (disesuaikan inflasi) naik terbatas. Di sisi lain, dolar Kanada melemah terhadap greenback setelah data ketenagakerjaan Kanada mengecewakan.
Bloomberg Dollar Spot Index diperdagangkan naik 0,2% setelah sempat menguat hingga 0,5% sebelumnya, dan berada di jalur kenaikan sekitar 0,7% sepanjang pekan ini. Namun, pergerakan dolar tidak sepenuhnya ditopang data domestik, melainkan juga aliran safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik.
Steven Englander, kepala riset FX G-10 Standard Chartered, menilai revisi turun PDB kuartal IV dan data durable goods kemungkinan lebih banyak menekan suku bunga dan dolar dibanding rilis PCE, meski dampaknya terbatas karena data PDB sudah “tertanggal” dan terdistorsi oleh shutdown pemerintah, sementara durable goods bulanan cenderung volatil.
Di pasar energi, Brent bertahan di sekitar US$99 per barel setelah Departemen Keuangan AS menerbitkan otorisasi kedua yang memungkinkan pembeli mengambil kargo minyak Rusia yang sudah berada di laut, sebuah langkah yang ditujukan untuk meredakan tekanan kenaikan harga. Namun pasar masih menilai dinamika suplai ditentukan oleh risiko navigasi dan eskalasi konflik.
Elias Haddad, global head of markets strategy di BBH, menyatakan meningkatnya risiko stagflasi AS bukan faktor positif bagi dolar. Meski begitu, selama Selat Hormuz efektif tertutup bagi pelayaran, dolar masih bisa diuntungkan oleh permintaan safe haven yang didorong kebutuhan pendanaan dolar (dollar funding).
Di pasar yen, USD/JPY nyaris tidak berubah di 159,27 setelah sempat naik 0,2% ke 159,69. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan otoritas siap mengambil langkah yang diperlukan terkait nilai tukar dalam segala kondisi, sambil mempertimbangkan dampak kenaikan harga minyak terhadap kehidupan sehari-hari. Otoritas keuangan Jepang juga dilaporkan lebih intens berkoordinasi dengan mitra AS saat yen mendekati level terlemah tahun ini di tengah volatilitas pasar yang meluas akibat konflik Iran.
Euro melemah, dengan EUR/USD turun 0,3% ke 1,1478 setelah sempat menyentuh 1,1433—terendah dalam lebih dari tujuh bulan. Poundsterling juga tertekan, dengan GBP/USD turun 0,6% ke 1,327, level terendah sejak 3 Maret.
Sementara itu, USD/CAD turun 0,5% ke 1,3705 setelah Kanada mencatat penurunan jumlah pekerjaan terbesar dalam lebih dari empat tahun pada Februari. Dolar Australia ikut melemah, dengan AUD/USD turun 0,5% ke 0,7043, mencerminkan kehati-hatian investor di tengah campuran data dan risiko geopolitik yang masih tinggi.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id