Dolar Sentuh Tertinggi vs Yen, Fokus Fiskal Jepang dan Data AS
Dolar AS sempat menyentuh level tertinggi 9,5 bulan terhadap yen sebelum sedikit melemah, dan bergerak turun tipis terhadap euro pada hari Selasa (18/11), seiring kekhawatiran pasar atas sikap fiskal Jepang dan menunggu rilis data-data AS untuk mencari petunjuk langkah The Federal Reserve berikutnya.
Saham global melemah dengan tekanan jual paling besar terjadi di pasar yang didorong saham teknologi, namun reaksi di pasar valuta asing sejauh ini masih relatif terbatas.
Indeks dolar, yang mengukur kinerja dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama, terakhir tercatat stagnan di 99,52 setelah pada hari Senin mengakhiri tren penurunan beruntun empat hari.
Para investor menunggu rilis data ekonomi AS setelah berakhirnya penutupan pemerintahan terpanjang dalam sejarah negara tersebut, dengan laporan ketenagakerjaan bulan September dijadwalkan keluar pada Kamis.
“Data ini bersifat backward looking, tetapi masih sangat relevan,” ujar Paul Mackel, Kepala Riset Valas Global di HSBC.
“Data tersebut menangkap periode ketika FOMC kembali melanjutkan siklus pelonggaran dan setelah pidato Ketua The Fed Jerome Powell yang bernada dovish di Jackson Hole terkait kondisi pasar tenaga kerja AS,” tambahnya.
Gubernur The Fed Christopher Waller terus memperkuat argumen perlunya pemangkasan suku bunga lebih lanjut di tengah perbedaan pandangan yang cukup lebar di internal bank sentral AS, sementara Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson menegaskan bahwa bank sentral perlu “melangkah secara perlahan.”
Di pasar keuangan, dalam beberapa hari terakhir pelaku pasar memperkirakan peluang pemangkasan suku bunga 25 bps bulan depan sekitar 50%, menurut alat pantau FedWatch dari CME Group. Pada hari Senin, peluang tersebut sekitar 49%, turun dari 60% sepekan sebelumnya.
Yen Jepang kemudian menguat kembali dan terakhir berada di 155,05 per dolar, naik 0,15% pada hari itu. Sebelumnya di sesi yang sama, yen sempat menyentuh 155,37 per dolar, level terlemah sejak 4 Februari.
Sementara Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda telah memberi sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga sedini bulan depan, Perdana Menteri Sanae Takaichi menyatakan ketidaksetujuannya terhadap gagasan tersebut dan mendesak BoJ untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam upaya mendorong kembali inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
Barclays menyarankan untuk tetap berada di posisi beli dolar AS terhadap yen, dengan alasan bahwa kebijakan ala Abenomics yang diusung Takaichi kemungkinan akan terus menekan mata uang Jepang.
Bank tersebut menaikkan target USD/JPY ke 158,8, dengan argumen bahwa belanja fiskal tambahan akan memperbesar utang Jepang dan meningkatkan premi yang diminta investor untuk memegang yen.
Euro naik 0,05% ke level $1,1596.
Dolar Australia relatif tidak berubah di sekitar $0,6494 setelah risalah rapat kebijakan 3–4 November Reserve Bank of Australia menunjukkan bahwa bank sentral menilai suku bunga acuan saat ini di 3,6% masih sedikit restriktif, namun menambahkan bahwa mungkin kondisi tersebut sudah tidak lagi berlaku, dengan mengutip lonjakan kredit perumahan untuk investor.(yds)
Sumber: Reuters