GBP/USD Bergerak Hati-Hati, Dolar Tetap Ditopang Risiko Timur Tengah
GBP/USD diperdagangkan dengan hati-hati pada Kamis dan berada di sekitar 1,3364, setelah melemah dalam dua sesi sebelumnya dan mulai menunjukkan pemulihan tipis. Pergerakan ini mencerminkan pasar yang belum berani agresif mengambil posisi, karena investor masih menimbang peluang de-eskalasi konflik Timur Tengah yang belum benar-benar jelas.
Dari sisi sentimen, dolar AS masih mendapat dukungan dari kombinasi harga minyak yang tinggi, yield obligasi AS yang tetap elevated, dan permintaan aset aman saat risiko geopolitik belum mereda. Tekanan ini membuat pound sulit menguat lebih jauh terhadap dolar, meski sempat mendapat dukungan dari ekspektasi bahwa Bank of England akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Reuters melaporkan mayoritas ekonom kini memperkirakan BoE akan menahan suku bunga di 3,75% sepanjang sisa tahun, seiring naiknya risiko inflasi akibat konflik yang mendorong harga energi.
Di sisi domestik Inggris, pound juga dibayangi oleh data yang kurang nyaman. Reuters melaporkan aktivitas bisnis Inggris pada Maret tumbuh pada laju paling lambat dalam enam bulan, sementara biaya input produsen melonjak paling cepat sejak 1992 akibat kenaikan biaya bahan bakar, transportasi, dan bahan baku. Kombinasi perlambatan pertumbuhan dan tekanan harga ini membuat prospek sterling menjadi tidak sederhana: BoE memang bisa tetap hawkish, tetapi ekonomi Inggris juga terlihat makin rentan jika konflik berkepanjangan.
Untuk jangka pendek, arah GBP/USD akan sangat ditentukan oleh tiga hal: pertama, apakah tensi Timur Tengah benar-benar mereda; kedua, apakah dolar AS tetap kuat didukung yield dan sentimen safe haven; dan ketiga, apakah pasar mulai lebih fokus ke risiko perlambatan ekonomi Inggris. Selama ketidakpastian geopolitik dan energi belum reda, GBP/USD kemungkinan masih bergerak terbatas dengan bias hati-hati, meski tetap sensitif terhadap headline baru dari Timur Tengah dan ekspektasi suku bunga BoE.
Penyebab:
1. Dolar AS masih ditopang sentimen hati-hati pasar, harga minyak yang tinggi, dan yield AS yang tetap kuat.
2. Aktivitas bisnis Inggris melambat pada Maret, menandakan ekonomi mulai tertekan oleh konflik dan biaya energi.
3. Tekanan inflasi di Inggris justru meningkat, membuat pasar harus menimbang risiko stagflasi ringan pada pound.
Hal yang harus diperhatikan:
1. Perkembangan terbaru konflik Timur Tengah, karena itu langsung memengaruhi dolar, minyak, dan sentimen risiko.
2. Pergerakan yield Treasury AS dan harga minyak, karena keduanya sangat berpengaruh ke arah GBP/USD saat ini.
3. Nada kebijakan Bank of England dan data ekonomi Inggris berikutnya, karena itu akan menentukan apakah pound masih bisa bertahan atau kembali tertekan.(CP)
Sumber: Newsmaker.id