Ketegangan Teluk Angkat Dolar, Pound Kehilangan Momentum
Pound sterling melemah pada Selasa di sesi Asia, dengan GBP/USD kembali tertekan dan bergerak di sekitar 1,3400 setelah mencatat kenaikan moderat sehari sebelumnya. Pelemahan terjadi ketika sentimen risiko memburuk, menyusul laporan bahwa negara-negara Teluk yang sejalan dengan AS semakin dekat untuk terlibat langsung dalam konflik Iran, termasuk sinyal potensi perubahan sikap militer Arab Saudi.
Di lapangan, Israel melanjutkan serangan terbaru ke Iran meski Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengisyaratkan jeda serangan terhadap infrastruktur energi setelah menyebut adanya pembicaraan “produktif” dengan Teheran. Namun Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membantah adanya keterlibatan dengan Washington, dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf juga menegaskan tidak ada negosiasi dengan AS.
Nada Teheran juga mengisyaratkan konflik belum mendekati akhir. Penasihat militer senior Mohsen Rezaei mengatakan perang akan berlanjut hingga Iran menerima kompensasi penuh atas kerusakan yang dialami, memperpanjang ketidakpastian yang membuat pasar cenderung defensif dan menambah permintaan dolar.
Fokus pasar kini bergeser ke data aktivitas. Pelaku pasar menunggu rilis awal S&P Global PMI Maret pada Selasa, yang menjadi penentu apakah ekonomi Inggris menunjukkan perlambatan tambahan. PMI manufaktur Inggris diperkirakan 51,1 (turun dari 51,7) dan PMI jasa 53,0 (dari 53,9). Hasil yang lebih lemah dari perkiraan berisiko menguji repricing hawkish yang sempat menopang pound.
Di sisi kebijakan, Bank of England pekan lalu menahan suku bunga di 3,75% sesuai ekspektasi. Gubernur BoE Andrew Bailey memperingatkan konflik Timur Tengah akan menjadi “shock” bagi perekonomian dan mendorong inflasi dalam jangka dekat, sehingga pemulihan keamanan pelayaran di Selat Hormuz menjadi kunci meredakan kenaikan harga energi.
Dengan kombinasi risiko geopolitik dan uji data domestik, GBP/USD cenderung bergerak reaktif terhadap dua kanal utama: pergeseran risk sentiment global (dolar sebagai safe-haven) dan perubahan ekspektasi suku bunga Inggris jika PMI mengonfirmasi perlambatan. Selama ketidakpastian Iran-Hormuz bertahan, ruang pemulihan pound berpotensi tetap terbatas. (asd)
Sumber : Newsmaker.id