Konflik Timur Tengah Panaskan USD, GBP Terseret
Pasangan GBP/USD menarik tekanan jual dan turun ke sekitar 1,3310 pada sesi awal Eropa hari Rabu(4/3), seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang memicu arus pelarian ke aset aman. Dalam kondisi risk-off seperti ini, Dolar AS cenderung diuntungkan, sementara mata uang berisiko relatif melemah terhadap Greenback.
Sentimen pasar memburuk setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut operasi militer sebagai “kesempatan terbaik terakhir” untuk meredam ancaman dari rudal balistik dan program nuklir Iran. Trump juga mengindikasikan kampanye dapat berlangsung empat hingga lima minggu, bahkan berpotensi lebih lama, sehingga ketidakpastian diperkirakan tetap tinggi dan mendukung permintaan USD sebagai safe haven.
Di sisi lain, Iran dilaporkan terus melakukan serangan balasan terhadap Israel dan target AS di kawasan, yang mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko. Dampaknya, GBP/USD kesulitan membangun pemulihan karena pasar lebih memilih mata uang defensif dan instrumen likuid saat headline geopolitik makin agresif.
Fokus berikutnya tertuju pada agenda data AS, terutama ADP Employment dan ISM Services PMI, yang berpotensi memberi petunjuk arah dolar dalam jangka pendek. Jika data menguat, pasar biasanya menafsirkan ekonomi AS masih solid, sehingga ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama menguat dan USD kembali mendapat tambahan dukungan.
Namun, pelemahan pound berpotensi tidak sepenuhnya “bebas jatuh”. Lonjakan harga minyak dan gas akibat konflik memunculkan kekhawatiran inflasi baru, sehingga pelaku pasar mulai memangkas ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter lebih lanjut oleh Bank of England (BoE)—faktor yang dapat membantu menahan tekanan terhadap GBP.
Sejalan dengan itu, probabilitas penurunan suku bunga BoE pada pertemuan akhir bulan ini dilaporkan turun tajam dibanding pekan lalu. Artinya, ruang pelemahan GBP bisa lebih terbatas jika pasar makin yakin BoE tidak akan agresif melonggarkan kebijakan, meskipun arah GBP/USD dalam waktu dekat tetap sangat dipengaruhi kombinasi risk-off geopolitik dan data AS.(alg)
Sumber: Newsmaker.id