Dolar Disokong Risk-Off, Euro Cuma Naik Tipis
Euro (EUR) bergerak menguat tipis terhadap Dolar AS (USD) pada Jumat (6/2), setelah sempat menyentuh level terendah dua minggu di 1,1765. Di sesi Eropa, EUR/USD bertahan di area 1,179–1,180, menandakan euro mencoba stabil meski sentimen pasar masih “nggak enak.”
Yang bikin gerak euro jadi serba tanggung adalah suasana risk-off global. Aksi jual di saham—terutama sektor teknologi—membuat investor kembali defensif, sehingga USD masih kebagian “jatah” sebagai aset aman. Kekhawatiran pasar juga menguat karena belanja AI raksasa teknologi dianggap makin agresif tapi belum sepenuhnya terlihat hasilnya di laba, yang menekan indeks-indeks utama AS.
Dari Eropa sendiri, sentimen euro tertahan oleh data Jerman yang mengecewakan. Produksi industri Jerman turun 1,9% (MoM) pada Desember 2025, jauh lebih lemah dari perkiraan pasar—ini jadi pengingat bahwa pemulihan manufaktur belum benar-benar mulus.
Sementara itu, ECB pada Kamis menahan suku bunga (deposit rate tetap 2%) sesuai ekspektasi. Christine Lagarde menekankan inflasi dinilai “di jalur” menuju target, dan menyinggung bahwa euro yang lebih kuat bisa menekan inflasi lebih besar dari perkiraan—meski ECB menegaskan tidak menargetkan level nilai tukar tertentu.
Di sisi USD, indeks dolar (DXY) masih relatif kuat di sekitar 97,85 setelah sempat mendekati puncak dua minggu, ditopang kombinasi risk-off dan data tenaga kerja AS yang melemah (yang bikin pasar makin sensitif ke arah kebijakan The Fed).
Fokus berikutnya ada di agenda Jumat: rilis Michigan Consumer Sentiment (prelim Februari) pukul 10:00 ET (sekitar 22:00 WIB) dan komentar pejabat ECB. Selain itu, laporan Nonfarm Payrolls AS Januari ditunda ke 11 Februari akibat partial government shutdown—jadi “big data” tenaga kerja yang biasanya jadi penentu arah USD minggu ini belum turun. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id