Aussie Melemah 5 Hari—RBA Bisa “Ngejut” Februari
Dolar Australia (AUD) melemah lagi terhadap dolar AS (USD) pada hari Rabu, memperpanjang penurunan untuk hari kelima berturut-turut. AUD/USD masih tertekan karena dolar AS tetap relatif kuat di tengah turunnya harapan memangkas suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Meski begitu, pelemahan AUD saja tidak bisa terlalu dalam. Pasalnya, pasar mulai semakin “waspada” bahwa Reserve Bank of Australia (RBA) bisa saja mulai menaikkan suku bunga segera pada bulan Februari.
Dua bank besar Australia, Commonwealth Bank of Australia (CBA) dan National Australia Bank (NAB), kini memproyeksikan RBA akan mengetatkan kebijakan lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Alasannya: inflasi masih bandel dan kapasitas ekonomi dinilai terbatas, sehingga tekanan harga belum benar-benar reda.
Prediksi itu juga sejalan dengan sikap RBA yang cenderung hawkish saat menahan suku bunga pada rapat terakhir tahun 2025 minggu lalu. Di pasar swap, peluang kenaikan suku bunga mulai terbaca: sekitar 28% di bulan Februari, naik jadi hampir 41% di bulan Maret, dan Agustus bahkan sudah hampir sepenuhnya diperkirakan.
Di sisi lain, USD tetap punya tenaga karena data tenaga kerja AS yang “campuran” tidak cukup kuat untuk menghidupkan lagi ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed. Akibatnya, dolar tetap kuat dan jadi beban buat AUD.
Tambahan tekanan datang dari data aktivitas bisnis Australia. PMI manufaktur memang naik tipis, namun PMI jasa turun, sehingga indeks gabungan ikut melemah. Sinyal ini membuat pasar menilai pertumbuhan belum solid merata—jadi AUD masih rentan sampai ada katalis yang lebih jelas dari RBA atau data global berikutnya.(asd)
Sumber : Newsmaker.id