Inflasi AS Melandai, Bitcoin Dekati Puncak Tiga Pekan
Bitcoin menguat pada sesi AS Rabu (15/7) setelah data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan meredakan kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat. Pada pembaruan terbaru, Bitcoin bergerak di sekitar US$65.285, dengan level tertinggi harian US$65.486 dan terendah US$63.580.
Kenaikan Bitcoin terjadi setelah data CPI dan data terbaru PPI AS menunjukkan tekanan inflasi mulai mereda. Kondisi ini membuat pelaku pasar mengurangi taruhan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada bulan ini. Bagi aset berisiko seperti kripto, ekspektasi suku bunga yang lebih rendah biasanya menjadi sentimen positif karena tekanan dari dolar dan yield ikut berkurang.
Namun, reli kripto belum sepenuhnya lepas dari risiko. Konflik AS-Iran masih menjadi perhatian utama setelah Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran dan memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran. Ketegangan ini ikut mendorong harga minyak naik, dengan Brent berada di sekitar US$84,91 per barel dan WTI sekitar US$79,60 per barel.
Risiko minyak menjadi penting karena kenaikan harga energi bisa kembali memicu inflasi. Jika inflasi kembali panas dalam beberapa bulan ke depan, The Fed berpotensi mempertahankan sikap ketat lebih lama. Ini yang membuat kenaikan Bitcoin masih tertahan, meskipun CPI terbaru memberi ruang napas bagi pasar.
Di pasar altcoin, pergerakan ikut menguat mengikuti Bitcoin. Ethereum berada di sekitar US$1.624,95, Solana US$77,97, XRP US$1,059, BNB US$583,30, Dogecoin US$0,0749, dan Cardano US$0,1681.
Dampaknya ke market, Bitcoin masih berpeluang menjaga momentum selama bertahan di atas area US$64.800–US$65.000. Namun, untuk reli yang lebih kuat, pasar masih menunggu konfirmasi dari arah yield Treasury, komentar ketua The Fed, dan perkembangan konflik di Selat Hormuz. Jadi, CPI dan PPI memang menjadi bensin utama Bitcoin hari ini, tetapi risiko minyak dan geopolitik masih menjadi rem besar bagi market kripto. (arl)
Sumber: Newsmaker.id