Perak Tertekan, Dolar Menguat di Tengah Kekahwatiran Dagang
Harga perak bertahan di kisaran $36,60 per ounce pada Jumat (1/8), tetapi masih berada di jalur penurunan mingguan sekitar 4%, dibebani oleh penguatan dolar AS.
Sentimen pasar tertekan setelah Presiden Donald Trump kembali menegaskan tarif global 10%, serta memberlakukan tarif timbal balik hingga 41% bagi negara-negara tanpa kesepakatan dagang yang final. Hal ini meningkatkan kekhawatiran investor terhadap risiko perdagangan dan memperlemah minat terhadap logam mulia.
Dolar AS terus menguat seiring investor mengantisipasi laporan tenaga kerja AS bulan Juli yang akan dirilis hari ini, yang dinilai penting dalam menentukan arah kebijakan Federal Reserve.
Sebelumnya, data inflasi inti PCE — indikator inflasi favorit The Fed — menunjukkan kenaikan 0,3% pada Juni, atau 2,8% secara tahunan. Data ini memperkeruh ekspektasi pelonggaran suku bunga pada September.
Di sisi lain, Presiden Trump kembali melontarkan kritik terhadap Ketua The Fed Jerome Powell karena belum juga memangkas suku bunga, mengakhiri ketenangan singkat antara Gedung Putih dan bank sentral AS.
Dengan tekanan ganda dari sisi kebijakan dan ketidakpastian makro, perak tetap tertekan dan cenderung kehilangan daya tariknya sebagai aset lindung nilai dalam jangka pendek.(yds)
Sumber: Trading Economics