Perak Anjlok, Dolar Menguat di Tengah Eskalasi Konflik Iran
Harga perak jatuh hampir 5% ke sekitar $71 per ons pada Kamis (2/4), tertekan penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak setelah Presiden AS Donald Trump berjanji meningkatkan serangan terhadap Iran. Kombinasi dolar yang menguat dan kekhawatiran inflasi yang kembali naik mendorong pasar memperbesar ekspektasi suku bunga lebih tinggi, yang biasanya menjadi sentimen negatif bagi logam mulia.
Dalam pernyataannya, Trump menyebut pasukan AS “hampir mencapai” target militer di Iran, namun tidak menyampaikan strategi keluar atau jadwal akhir konflik yang telah berlangsung sekitar sebulan. Ia justru menegaskan AS akan menyerang Iran “sangat keras” dalam “dua hingga tiga minggu” ke depan. Teheran menolak klaim Trump bahwa Iran meminta gencatan senjata dan menegaskan Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali IRGC.
Penguatan dolar sebagai aset safe haven menekan harga logam mulia yang berdenominasi dolar. Perak tercatat sudah turun lebih dari 20% sejak konflik pecah pada 28 Februari, menandakan tekanan berlanjut ketika risiko geopolitik memicu lonjakan minyak, memperbesar kekhawatiran inflasi, dan menggeser ekspektasi kebijakan moneter ke arah lebih ketat.
Penyebab :
Retorika eskalasi Trump meningkatkan risiko perang berkepanjangan dan mengangkat harga minyak.
Kenaikan minyak memicu kekhawatiran inflasi, memperkuat ekspektasi suku bunga lebih tinggi.
Dolar menguat sebagai safe haven, menekan logam mulia yang dihargai dalam dolar.
Akibat:
Harga perak turun hampir 5% ke sekitar US$71 per ons, memperpanjang pelemahan sejak konflik dimulai.
Tekanan menyebar ke logam mulia karena biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil naik saat ekspektasi suku bunga menguat.
Volatilitas pasar komoditas berpotensi bertahan tinggi karena arah konflik Iran dan status Selat Hormuz tetap menjadi katalis utama.(yds)
Sumber: newsmaker.id