Perak Pangkas Penurunan Pasca Mengalami Tekanan
Harga perak kembali pulih pada hari Rabu (1/4) setelah sebelumnya tertekan, diperdagangkan di sekitar $75 per ounce. Pemulihan ini didorong oleh pelemahan dolar AS dan perubahan sinyal geopolitik yang terjadi di Timur Tengah. Meskipun perak melanjutkan penurunan tajam dari Maret, logam ini berhasil pulih dari level rendah terbaru setelah indeks dolar AS turun dari level tertinggi dalam sepuluh bulan terakhir.
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Iran telah meminta gencatan senjata, tetapi menekankan bahwa AS hanya akan mempertimbangkan kesepakatan jika Selat Hormuz sepenuhnya berfungsi dan aman. Ia juga memperingatkan kemungkinan eskalasi lebih lanjut jika serangan terhadap kapal-kapal terus berlanjut. Pernyataan ini mempertahankan volatilitas di pasar komoditas, sementara harga minyak berfluktuasi setelah sempat turun dan imbal hasil Treasury 10 tahun tidak banyak berubah meski ada kenaikan signifikan bulan lalu.
Namun, meskipun terjadi pemulihan, harga perak masih jauh di bawah level tertinggi rekor. Data yang menunjukkan bahwa sektor pekerjaan dan penjualan ritel di AS tetap kuat mengindikasikan bahwa ekonomi AS tetap kokoh, mengurangi permintaan terhadap logam mulia seperti perak sebagai aset aman.
Penyebab dan Akibat:
Penyebab utama pemulihan harga perak adalah penurunan dolar AS yang dipicu oleh berita tentang potensi de-eskalasi perang di Timur Tengah, khususnya dengan Iran yang mengajukan permintaan gencatan senjata. Selain itu, data ekonomi AS yang menunjukkan sektor pekerjaan yang stabil dan pertumbuhan penjualan ritel juga membantu mendukung persepsi bahwa ekonomi AS cukup kuat meskipun ada ketidakpastian geopolitik. Akibatnya, perak kembali mendapatkan dukungan tetapi tetap berada di bawah level tertinggi sebelumnya karena pasar mengkhawatirkan dampak kenaikan suku bunga yang lebih lama dari Federal Reserve terhadap daya tarik logam mulia.(yds)
Sumber: Newsmaker.id