Perak Turun Tajam, Ekspektasi “Higher-for-Longer” Makin Menguat
Harga perak (XAG/USD) bergerak turun pada Kamis (26/3), bertahan di sekitar $68,50 pada saat penulisan, melemah sekitar 3,85% dalam sehari. Pelemahan ini memperpanjang koreksi setelah perak sempat mencatat kenaikan pada awal pekan.
Perak tertekan oleh kembalinya permintaan terhadap dolar AS (USD) seiring ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang masih tinggi. Penolakan Iran terhadap proposal gencatan senjata dari AS menambah ketidakpastian, sementara aksi saling serang di kawasan menjaga pasar dalam mode risk-off. Dalam kondisi seperti ini, dolar kembali dipandang sebagai aset safe haven—yang secara mekanis menekan komoditas berdenominasi USD, termasuk logam mulia.
Di saat yang sama, kenaikan harga minyak kembali memicu kekhawatiran inflasi global dan memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Investor semakin memasang skenario kebijakan moneter yang tetap ketat, terutama dari Federal Reserve (The Fed).
Repricing ekspektasi ini mendorong yield obligasi AS naik, sehingga perak menjadi kurang menarik karena merupakan aset non-yielding. Arus dana juga mulai bergeser ke arah likuiditas, ketika investor memilih meningkatkan posisi kas untuk menutup kerugian atau mengurangi eksposur di tengah volatilitas pasar yang meningkat.
Meski ketegangan geopolitik biasanya mendukung aset lindung nilai, perak belum mampu memanfaatkan sentimen tersebut karena penguatan dolar dan kenaikan yield masih mendominasi dinamika pasar.
Ke depan, pelaku pasar akan tetap memantau perkembangan konflik Timur Tengah, tren inflasi—terutama dari energi—serta arah kebijakan bank sentral. Faktor-faktor ini diperkirakan akan menjadi penggerak utama pergerakan perak dalam waktu dekat. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id