Sinyal De-eskalasi Angkat Sentimen, Perak Bertahan di US$68,
Harga perak bergerak di sekitar US$68 per ons pada Selasa, bertahan setelah sempat memantul tajam pada sesi sebelumnya. Pasar menilai penundaan rencana serangan AS terhadap infrastruktur energi Iran sebagai faktor yang sementara meredakan tekanan risk-off dan membuka ruang stabilisasi pada logam mulia.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan lima hari atas serangan yang sebelumnya direncanakan, yang dipandang sebagai upaya meredakan tekanan harga energi. Setelah pernyataan tersebut, patokan minyak dilaporkan jatuh sekitar 10%, sementara dolar AS dan yield Treasury ikut melunak—kombinasi yang biasanya mendukung logam mulia.
Namun sinyal de-eskalasi belum solid. Teheran membantah adanya negosiasi, sementara Israel dilaporkan masih melanjutkan serangan terhadap Iran. Ketidakpastian ini membuat arah pembukaan kembali Selat Hormuz tetap sulit dipastikan, sehingga risiko inflasi energi masih berada di radar pelaku pasar.
Bagi perak, kanal transmisi utama datang dari inflasi dan suku bunga. Saat harga energi naik, pasar cenderung memperkuat ekspektasi suku bunga lebih tinggi lebih lama—atau pengetatan tambahan—yang menjadi beban bagi logam mulia. Karena itu, stabilisasi saat ini dinilai lebih sebagai jeda teknikal dibanding perubahan tren yang meyakinkan.
Tekanan sebelumnya juga masih membekas. Perak tercatat sudah turun hingga sekitar 37% dari puncak Maret, ketika lonjakan energi memicu repricing inflasi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga. Koreksi yang dalam membuat pergerakan perak semakin sensitif terhadap perubahan dolar, yield, dan headline geopolitik.
Ke depan, pasar akan memantau apakah harga minyak kembali stabil atau berbalik naik, serta apakah ada perkembangan konkret yang mengarah pada pembukaan Hormuz atau proses diplomasi yang kredibel. Selama ketidakpastian energi bertahan, perak berpotensi tetap volatil meski sempat menemukan “lantai” jangka pendek. (asd)
Sumber : Newsmaker.id