Dolar Menguat, Gejolak AS-Iran Dorong Permintaan Safe Haven
Dolar AS menguat pada market Eropa Senin (20/04) di tengah kembalinya ketegangan AS-Iran yang memunculkan keraguan apakah gencatan senjata sementara akan diperpanjang. Indeks dolar (DXY) naik 0,2% ke 98,27 pada 08:33 ET, meski sedikit turun dari level tertinggi sepekan yang sempat tersentuh.
Pergerakan DXY terjadi saat euro relatif stabil di $1,1763 dan pound sterling nyaris tidak berubah di $1,3512. Dolar Australia, yang kerap diperlakukan pasar sebagai proksi risk appetite, melemah terhadap dolar AS.
ING menilai dolar kembali “bid” setelah sempat tertekan pada Jumat ketika muncul kabar Selat Hormuz “sepenuhnya terbuka”. Namun, nada yang kembali keras antara AS dan Iran, ditambah penyitaan kapal kargo Iran oleh Angkatan Laut AS, mendorong pasar kembali menambah eksposur pada dolar.
Dari sisi fundamental, ketidakpastian geopolitik meningkatkan permintaan aset likuid dan defensif, sekaligus memperkuat saluran transmisi melalui kenaikan harga energi. Dengan minyak kembali naik setelah pelemahan tajam pekan lalu, pelaku pasar menimbang ulang risiko inflasi dan implikasinya terhadap prospek kebijakan moneter.
Fokus pasar berikutnya tertuju pada keberlanjutan gencatan senjata dua pekan yang akan berakhir pekan ini, agenda pembicaraan damai yang disebut akan berlangsung di Pakistan, serta sikap Iran yang menolak putaran kedua negosiasi dengan alasan tuntutan AS dinilai berlebihan dan posisi Washington berubah-ubah. Arah dolar dalam jangka dekat akan sensitif terhadap perkembangan headline terkait Hormuz, pergerakan minyak, dan perubahan selera risiko global. (gn)
Sumber: Newsmaker.id