Ancaman Blokade Hormuz Angkat Premi Risiko, Minyak Melonjak
Harga minyak melonjak pada perdagangan Senin setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan blokade di Selat Hormuz, menyusul gagalnya perundingan damai akhir pekan. Sentimen risiko langsung memburuk, membuat saham melemah dan pasar obligasi bergejolak.
Brent naik 7,4% ke sedikit di atas US$102 per barel karena kekhawatiran blokade akan mengganggu arus energi di jalur pelayaran kunci itu. Di saat yang sama, WTI naik 8,8% ke US$105,02 per barel, mencerminkan lonjakan premi risiko dalam waktu singkat.
Tekanan meluas ke aset berisiko. Bursa Asia turun sekitar 1% dan futures S&P 500 melemah, karena minyak yang lebih mahal dinilai bisa menekan pertumbuhan ekonomi lewat kenaikan biaya energi dan inflasi. Dolar AS menguat terhadap mata uang utama karena kembali menjadi pilihan aset aman.
Pusat dinamika berada pada rencana implementasi blokade oleh militer AS terhadap lalu lintas maritim yang keluar-masuk pelabuhan Iran mulai Senin pukul 10.00 waktu New York, menurut pernyataan Komando Pusat AS. AS menyatakan tidak akan mengganggu kapal yang melintas Hormuz menuju pelabuhan non-Iran, sementara Iran menyebut tidak akan membiarkan blokade itu berjalan.
Trump juga menyatakan AS akan mencegat kapal yang membayar “toll” ke Iran untuk perjalanan aman melalui Hormuz dan akan melakukan pembersihan ranjau di selat tersebut. Jika efektif, blokade berpotensi menghentikan hampir dua juta barel per hari ekspor minyak Iran yang selama ini melewati jalur itu, sehingga menambah tekanan pada pasokan global.
Ke depan, arah minyak akan sangat ditentukan oleh dua hal: apakah blokade benar-benar mengurangi arus fisik pengiriman dan apakah Iran merespons dengan langkah balasan yang mengganggu pelayaran. Selama ketidakpastian tinggi, pasar cenderung mempertahankan premi risiko pada minyak, dengan pergerakan harga sensitif terhadap headline diplomasi, laporan keamanan pelayaran, serta perubahan rute tanker dan biaya asuransi.(asd)
Sumber: Newsmaker.id