Hormuz Memanas Lagi,Minyak Langsung Guncang
Harga minyak melesat dan aset berisiko melemah setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan blokade terhadap lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran. Langkah ini meningkatkan tensi dengan Teheran setelah pembicaraan damai akhir pekan di Pakistan gagal mencapai kesepakatan, sehingga pasar kembali memasang premi risiko gangguan pasokan di kawasan Selat Hormuz.
Brent naik 8,6% ke US$103,16 per barel, sementara kontrak gas alam Eropa melonjak hingga 17% pada awal perdagangan Senin (13/04). Saham Asia turun 0,8% saat pembukaan dan futures S&P 500 terkoreksi 1,1% karena kekhawatiran harga minyak yang lebih tinggi akan menekan pertumbuhan ekonomi dan kembali memanaskan inflasi.
Dolar AS kembali diburu sebagai aset lindung nilai dan menguat terhadap seluruh mata uang G10. Obligasi pemerintah AS tertekan, sementara imbal hasil obligasi Jepang tenor 10 tahun naik ke 2,49%—level tertinggi sejak 1997. Emas turun 1,7% ke sekitar US$4.650 per ounce karena lonjakan minyak mendorong ekspektasi suku bunga bertahan tinggi, yang biasanya menekan aset tanpa imbal hasil seperti emas.
US Central Command menyatakan blokade terhadap seluruh lalu lintas maritim yang masuk dan keluar pelabuhan Iran akan mulai berlaku Senin pukul 10.00 waktu New York. Namun, AS menegaskan tidak akan mengganggu kebebasan navigasi kapal yang melintasi Selat Hormuz dari dan menuju pelabuhan non-Iran. Iran menyatakan “tidak akan mengizinkan” blokade tersebut berjalan.
Trump mengatakan AS akan mencegat kapal yang membayar pungutan (toll) kepada Iran untuk melintas aman di Hormuz serta akan melakukan pembersihan ranjau di selat tersebut. Jika efektif, blokade berisiko menghentikan hampir 2 juta barel per hari ekspor minyak Iran yang melewati jalur itu, memperketat pasokan global dan menjaga volatilitas tinggi di pasar energi.
Pelaku pasar kini menilai apakah eskalasi ini hanya taktik negosiasi atau mengarah pada gangguan yang lebih berkepanjangan. Fokus juga mengarah ke musim laporan keuangan kuartal AS, karena kenaikan biaya energi dapat memperburuk tekanan inflasi dan meningkatkan risiko pelemahan belanja konsumen, di tengah data terbaru yang menunjukkan inflasi headline melonjak meski inflasi inti relatif lebih terkendali.
5 Poin Inti :
- Brent melonjak 8,6% ke US$103,16 usai Trump perintahkan blokade pelabuhan Iran.
- CENTCOM: blokade mulai Senin 10.00 waktu New York; navigasi Hormuz untuk non-Iran tetap dibuka.
- Dolar menguat, saham turun, obligasi tertekan; emas turun karena ekspektasi suku bunga lebih tinggi.
- Trump: AS akan cegat kapal yang bayar “toll” ke Iran dan akan bersihkan ranjau di Hormuz.
- Risiko pasar bergeser ke potensi terhentinya ~2 juta bph ekspor Iran dan dampaknya ke inflasi-pertumbuhan.(asd)
Sumber: Newsmaker.id