Minyak Anjlok usai AS-Iran Sepakat Gencatan Senjata 2 Pekan, Brent Sempat Jatuh 17%
Harga minyak jatuh tajam pada Rabu (8/3) setelah AS dan Iran menyepakati gencatan senjata dua pekan yang diharapkan menghentikan kampanye militer AS-Israel dengan imbalan Teheran membuka kembali Selat Hormuz. Brent sempat merosot hingga 17% dalam sesi tersebut, menandai pelepasan cepat premi risiko geopolitik yang selama ini tertanam pada harga.
Meski begitu, risiko pasokan belum hilang sepenuhnya. Data terbaru dari US Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan produk minyak di AS terus menyusut cepat: stok distilat di Gulf Coast mencapai level terendah sejak September 2024, sementara persediaan bensin domestik turun ke titik terendah hampir 16 tahun. Pasar global dalam beberapa pekan terakhir sangat bergantung pada suplai AS untuk menutup gangguan arus dari Timur Tengah.
Dari sisi kebijakan, Gedung Putih menyatakan Wakil Presiden JD Vance akan memimpin delegasi AS untuk perundingan di Islamabad, dengan putaran pertama dijadwalkan Sabtu pagi waktu setempat. Presiden Donald Trump juga menyebut AS membahas pelonggaran sanksi dengan Teheran, yang berpotensi membuka jalan bagi tambahan barel Iran ke pembeli Barat seiring waktu. Namun pemulihan fisik diperkirakan bertahap: produksi di ladang minyak dan gas sudah dipangkas, sebagian kilang mengurangi operasi atau berhenti, dan EIA memperkirakan lebih dari 9 juta barel per hari produksi dari negara-negara kunci Timur Tengah terdampak selama April.
Ketidakpastian juga datang dari operasional Hormuz. Sejumlah pelaku pasar menilai yang terjadi bukan “pembukaan penuh”, melainkan formalisasi kondisi di mana pelayaran tetap bergantung pada koordinasi dengan angkatan bersenjata Iran dan dibatasi faktor teknis. Pelaku fisik dan pemilik kapal masih berhati-hati, menunggu sinyal gencatan senjata benar-benar bertahan sebelum mengirim tanker, di tengah lebih dari 800 kapal yang masih terjebak akibat perang.
WTI untuk pengiriman Mei turun tajam dan berakhir di sekitar pertengahan US$90-an per barel, sementara Brent kontrak Juni juga melemah signifikan dan ditutup di kisaran serupa. Meski koreksi besar terjadi, harga minyak masih tercatat lebih dari 25% lebih tinggi dibanding akhir Februari, menjaga fokus pasar pada kepastian implementasi gencatan senjata dan normalisasi arus energi melalui Hormuz.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id