Minyak Anjlok Usai Gencatan Senjata AS-Iran Dua Minggu
Harga minyak mentah turun tajam ke bawah US$100 per barel setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata dua minggu yang diharapkan menghentikan kampanye militer AS-Israel, dengan syarat Teheran membuka kembali Selat Hormuz. Pelemahan harga mencerminkan berkurangnya premi risiko geopolitik yang sebelumnya terakumulasi di pasar energi.
Brent sempat merosot hingga 16% sebelum diperdagangkan di sekitar US$94 per barel. West Texas Intermediate (WTI) juga jatuh tajam dan terakhir berada di dekat US$96, penurunan terbesar dalam hampir enam tahun. Pada 12:17 siang di Singapura, Brent untuk penyelesaian Juni tercatat turun 14% ke US$94,39 per barel, sementara WTI untuk pengiriman Mei turun 15% ke US$96,10 per barel.
Presiden Donald Trump mengatakan gencatan senjata bersifat kondisional, bergantung pada pembukaan Selat Hormuz, dan ditujukan agar kesepakatan “dapat difinalisasi.” Iran, melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, menyatakan pelayaran aman di jalur air tersebut memungkinkan selama dua minggu melalui koordinasi dengan angkatan bersenjata. Seorang pejabat Gedung Putih menyebut Israel juga menyetujui jeda pertempuran.
Rangkaian tindak lanjut perundingan juga menjadi fokus pasar. Delegasi AS dan Iran disebut diundang bertemu di Islamabad pada Jumat untuk membahas kesepakatan yang lebih konklusif. Associated Press melaporkan rencana saat ini mencakup kemungkinan Iran dan Oman mengenakan biaya pada kapal yang melintas di Selat Hormuz, sementara AS akan membantu mengurai penumpukan lalu lintas di jalur itu.
Penurunan tidak hanya terjadi pada minyak mentah. Harga produk olahan ikut terkoreksi, dengan kontrak berjangka diesel Eropa turun hingga 23% (penurunan terbesar dalam lebih dari empat tahun), sementara kontrak Murban Abu Dhabi turun 19%, yang disebut sebagai pelemahan terbesar sejak kontrak itu diluncurkan pada 2021. Aktivitas transaksi juga meningkat, dengan sekitar 240.000 kontrak Brent berpindah tangan pada jam pertama perdagangan, jauh di atas ritme normal awal sesi.
Meski demikian, pelaku pasar fisik masih berhati-hati dan menunggu bukti gencatan senjata benar-benar bertahan sebelum kembali mengamankan kargo dari Teluk. Para pemilik kapal menyatakan perlu melihat kapal dapat keluar dari kawasan dengan aman sebelum mengirim tanker, di tengah laporan lebih dari 800 kapal sempat terjebak akibat perang. Pasar kini menilai detail implementasi pembukaan Selat Hormuz akan menentukan apakah penurunan harga berlanjut atau volatilitas kembali meningkat bila negosiasi tersendat.
5 Poin Inti:
- Brent sempat jatuh hingga 16% dan diperdagangkan sekitar US$94; WTI terakhir dekat US$96.
- Pemicu utama: gencatan senjata dua minggu AS-Iran yang kondisional pada pembukaan Selat Hormuz.
- Perundingan lanjutan disebut berlangsung Jumat di Islamabad untuk merampungkan rincian kesepakatan.
- Produk olahan ikut turun: diesel Eropa anjlok hingga 23%; Murban Abu Dhabi turun 19%.
- Para pelaku pasar menunggu sinyal gencatan senjata bertahan dan jalur aman benar-benar pulih.(asd)
Sumber: Newsmaker.id