Indeks Dolar Menguat: Hari ini Iran Jadi Penentu Arah
Harga minyak menguat dalam perdagangan yang bergejolak, sementara sentimen ekuitas melemah menjelang tenggat Presiden AS Donald Trump bagi Iran untuk mencapai kesepakatan damai. Sinyal gencatan senjata yang masih tentatif membantu meredakan kekhawatiran sesaat, namun risiko eskalasi kembali menahan pelaku pasar untuk mengambil posisi agresif.
Brent naik 1,6% dan diperdagangkan di atas US$111 per barel, setelah berayun antara penguatan dan pelemahan menjelang batas waktu Selasa pukul 20.00 ET. Pada saat yang sama, dolar AS menguat 0,1%, mempertegas posisinya sebagai aset lindung nilai yang paling dicari selama perang Iran.
Pasar saham global bergerak fluktuatif setelah sempat menguat pada Senin karena harapan gencatan senjata. Namun ketidakpastian terkait konflik membuat investor kembali menahan diri, dengan futures indeks saham AS turun 0,5%. Di Asia, indeks saham memangkas kenaikan awal dan bertahan naik 0,3%, dipimpin sektor teknologi yang dinilai lebih rendah eksposurnya terhadap konflik yang memasuki pekan keenam.
Fokus investor tetap tertuju pada Selat Hormuz, jalur strategis bagi arus minyak Timur Tengah. Trump menegaskan kebebasan navigasi harus menjadi bagian dari kesepakatan, dan kembali mengangkat ancaman serangan ke infrastruktur Iran jika syarat AS tidak dipenuhi. Lingkungan ini membuat pasar mudah berbalik arah mengikuti perkembangan headline, karena risiko gangguan pasokan dan respons kebijakan menjadi variabel utama.
Indikasi kehati-hatian juga terlihat pada pasar valuta asing. Ukuran volatilitas satu bulan mata uang G-10 milik JPMorgan naik ke 7,98%, masih dalam kisaran terbaru namun mencerminkan meningkatnya kewaspadaan menjelang tenggat. Sejumlah analis menilai pasar akan tetap sangat sensitif terhadap perkembangan di Timur Tengah, dengan bias pergerakan yang cepat berubah seiring aliran berita.
Di aset lain, emas bergerak naik-turun di sekitar US$4.650 per ons, sementara yield US Treasury 10 tahun naik dua basis poin ke 4,35% dan Bitcoin turun lebih dari 1,5% ke sekitar US$68.700. Selain geopolitik, pasar juga menunggu rilis data inflasi pekan ini, setelah data Senin menunjukkan sektor jasa AS melambat pada Maret disertai penurunan tenaga kerja dan kenaikan harga input.
5 Poin Terpenting :
- Brent naik 1,6% di atas US$111/barel menjelang deadline Trump Selasa 20.00 ET.
- Dolar AS menguat 0,1% sebagai safe haven utama di tengah ketidakpastian perang.
- Sentimen ekuitas melemah: futures AS turun 0,5%, saham Asia hanya naik 0,3% setelah memangkas kenaikan.
- Pasar fokus pada Selat Hormuz dan risiko gangguan pasokan; Trump menegaskan navigasi bebas harus masuk kesepakatan.
- Volatilitas lintas aset tetap tinggi: emas sekitar US$4.650, UST 10Y 4,35%, Bitcoin turun ke US$68.700.(asd)
Sumber : Newsmaker.id