Minyak Melemah, Harapan Ceasefire Bentur Ultimatum Trump soal Hormuz
Harga minyak berbalik melemah setelah sempat menguat, ketika pasar menimbang peluang meredanya konflik lewat pembicaraan gencatan senjata dengan risiko eskalasi baru terkait Selat Hormuz. Brent diperdagangkan mendekati $109 per barel, turun dari level sebelumnya yang sempat mendekati $112.
Di saat yang sama, gangguan aliran fisik masih menjadi pusat perhatian karena Selat Hormuz, jalur yang menjadi titik lintasan sekitar seperlima pengiriman minyak global, dilaporkan masih banyak terblokir dan hanya dilalui sebagian kecil kapal. Dalam beberapa sesi terakhir, pasar juga menyoroti lonjakan ketatnya struktur berjangka, dengan selisih dua kontrak terdekat Brent dan WTI yang sempat melebar hingga lebih dari $10 per barel, kondisi yang kerap mencerminkan kelangkaan pasokan jangka pendek.
Sentimen sempat terbantu laporan Axios bahwa AS, Iran, dan mediator regional membahas persyaratan gencatan senjata potensial 45 hari. Namun Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan Teheran menginginkan pengakhiran perang secara definitif, bukan sekadar gencatan senjata. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump pada akhir pekan melontarkan ultimatum agar Iran membuka kembali Hormuz, disertai ancaman serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur lain jika tuntutan tidak dipenuhi; Iran menolak tuntutan tersebut.
Pelaku pasar mulai memisahkan dampak “premi risiko geopolitik” dari kondisi pasokan nyata. Sejumlah pihak menilai fokus bergeser ke “premi fisik” ketika penutupan hampir total Hormuz membatasi arus, meski Iran menyatakan Irak akan dikecualikan dari pembatasan dan SOMO menyebut pengapalan minyak Irak dapat melintas, sebuah ujian bagi kepercayaan pembeli terhadap jaminan keamanan.
Tekanan pasokan juga tercermin dari kebijakan harga produsen. Arab Saudi menaikkan harga jual resmi minyak utamanya ke Asia ke rekor tertinggi; Saudi Aramco disebut akan menaikkan Arab Light untuk penjualan Mei menjadi premium $19,50 di atas patokan regional. Sementara itu, OPEC+ memperingatkan kerusakan aset energi dapat berdampak berkepanjangan pada pasokan bahkan setelah konflik mereda, meski kelompok juga menyepakati kenaikan kuota produksi sebagai sinyal niat di tengah keterbatasan aliran dari Teluk Persia.(gn)
Sumber: Newsmaker.id