Minyak Naik Lagi, Risiko Energi Teluk Membesar, Reli Tertahan oleh Trump
Harga minyak naik untuk hari kedua berturut-turut setelah AS dan Israel meningkatkan serangan terhadap Iran, sementara dampak konflik yang meluas makin terasa ke aset energi di kawasan Teluk Persia. WTI ditutup di atas $74,50 per barel—mencatat kenaikan dua hari terbesar dalam empat tahun—sedangkan Brent ditutup di atas $81.
Reli dua hari yang agresif sempat melandai setelah Presiden Donald Trump mengatakan AS akan mengawal kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz dan menyediakan asuransi bagi pengiriman. Pernyataan ini “menahan” reli yang sebelumnya didorong ketakutan skenario terburuk: gangguan berkepanjangan di Hormuz, jalur sempit yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak mentah global.
Trump juga menyebut harga minyak “sedikit terlalu tinggi” dan memperkirakan harga akan turun saat konflik berakhir. Pasar menilai Washington berpotensi mengambil langkah untuk menahan harga bensin dan energi—isu sensitif secara politik—namun risiko inflasi tetap membayangi seiring energi yang mahal menekan prospek pertumbuhan dan menyulitkan bank sentral menjaga inflasi.
Di sisi pasokan, Irak dilaporkan memangkas produksi di ladang raksasa Rumaila dan berpotensi menutup sekitar 3 juta barel per hari bila krisis berlanjut. Sejumlah tangki penyimpanan di Irak juga disebut mulai penuh karena hambatan pengiriman akibat situasi di Hormuz. Arab Saudi mengeksplor opsi menyalurkan lebih banyak barel via Laut Merah, namun rute ini juga tidak bebas risiko karena ancaman serangan kelompok Houthi di perairan tersebut.
Ketegangan ini sempat membuat Brent melonjak sekitar 11% hanya dalam dua hari dan pada satu titik menembus $85/barel (level tertinggi sejak Juli 2024). Namun reli agak diredam setelah dokumen International Energy Agency (IEA) menunjukkan kesiapan lembaga tersebut membantu menstabilkan pasar minyak global bila diperlukan.
Konflik juga mulai menyentuh infrastruktur: Saudi Aramco menghentikan operasi di kilang Ras Tanura setelah serangan drone, sementara puing drone yang berhasil dicegat memicu kebakaran besar di pusat perdagangan minyak Fujairah (UEA). Kedutaan AS di Arab Saudi juga merilis peringatan soal potensi serangan rudal/UAV di beberapa wilayah, menambah tekanan sentimen dan premi risiko.
Dampak lanjutan terlihat di gas: jalur Hormuz juga vital bagi tanker LNG. Qatar dilaporkan menghentikan produksi di fasilitas ekspor LNG terbesar dunia setelah menjadi target. Dari sisi demand, China meminta semua pihak memastikan keselamatan pelayaran di Hormuz, sementara Indonesia menyatakan akan mengalihkan sebagian sumber impor crude dari AS sebagai alternatif dari pengiriman Timur Tengah.
Indikator pasar menunjukkan keketatan jangka pendek makin terasa. Prompt spread Brent (selisih dua kontrak terdekat) melebar menjadi sekitar $2,80/barel dalam backwardation—pola yang cenderung bullish—dari hanya $0,19 sepekan sebelumnya. Biaya pengapalan juga melonjak: ongkos membawa crude dari Timur Tengah ke China tercatat ke rekor, dengan tarif harian rute acuan menembus sekitar $481.000/hari.(mrv)
Penutupan harga:
WTI April naik 4,7% ke $74,56/barel.
Brent Mei naik 4,7% ke $81,40/barel.
Sumber : Newsmaker.id