Minyak Sedikit Naik Fokus Pembicaraan Iran-AS
Harga minyak bergerak melemah tipis di perdagangan Asia yang sepi pada Selasa (17/2), ketika perhatian pasar terkunci ke pembicaraan nuklir AS–Iran di Jenewa. Brent turun 0,86% ke $68,06/barel, sementara WTI naik tipis ke $63,21/barel setelah reli pada sesi sebelumnya.
Pergerakan yang terbatas ini terjadi di tengah volume transaksi di bawah rata-rata, karena banyak pasar Asia tutup untuk libur Tahun Baru Imlek dan pasar Amerika Utara baru kembali aktif setelah libur. Kondisi likuiditas tipis membuat harga mudah “bergoyang” meski tanpa perubahan fundamental besar.
Sorotan utama tertuju pada pertemuan tidak langsung AS–Iran yang dimediasi Oman. Reuters melaporkan pembicaraan tertutup dijadwalkan mulai pukul 09.00 waktu Jenewa (08.00 GMT / sekitar 15.00 WIB), dengan utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner serta Menlu Iran Abbas Araqchi berada di jalur negosiasi.
Di saat yang sama, risiko geopolitik kembali memanaskan “risk premium” minyak. Iran menggelar latihan militer di Selat Hormuz—jalur vital yang mengangkut sekitar seperlima pengiriman minyak dunia—tepat menjelang negosiasi. Pasar menilai setiap eskalasi di koridor ini bisa cepat mengubah kalkulasi pasokan.
Dari Washington, Presiden Donald Trump menyatakan akan terlibat “secara tidak langsung” dan menilai Teheran ingin membuat kesepakatan, namun tetap memberi sinyal keras soal konsekuensi bila diplomasi gagal. Reuters juga menyebut AS menambah postur militer di kawasan dan menyiapkan opsi operasi lebih panjang jika negosiasi runtuh—membuat pasar makin sensitif terhadap headline.
Selain Jenewa, pasar juga memantau agenda geopolitik paralel, termasuk rencana pembicaraan Rusia–Ukraina di kota yang sama. Walau peluang damai cepat dinilai kecil, setiap kemajuan dapat memengaruhi persepsi pasokan global dan ikut menggerakkan sentimen energi.
Ke depan, arah minyak cenderung ditentukan oleh “headline risk”: bila pembicaraan AS–Iran memberi sinyal de-eskalasi, risk premium bisa cepat luruh dan menekan Brent; sebaliknya jika terjadi kebuntuan/ancaman naik, minyak berpotensi kembali menguat dengan pergerakan yang lebih tajam karena likuiditas masih tipis di awal pekan.(yds)
Sumber: Newsmaker.id