Minyak Menguat Saat Risiko Iran Mengalahkan Kenaikan Stok
Harga minyak melanjutkan penguatan untuk hari kedua, saat pelaku pasar lebih menaruh perhatian pada ketegangan AS–Iran dibanding sinyal suplai yang membengkak. Risiko geopolitik kembali masuk sebagai “premi” di harga, membuat sentimen pasar condong defensif meski data pasokan memberi alasan untuk berhati-hati.
Di awal perdagangan Asia, Brent bergerak mendekati US$70 per barel, sementara WTI berada di sekitar US$65. Pasar menimbang beberapa laporan terkait Iran—mulai dari potensi langkah penegakan yang lebih agresif terhadap arus minyak Iran hingga kemungkinan penambahan kekuatan militer AS di kawasan bila negosiasi nuklir tidak menghasilkan titik temu.
Di sisi suplai, Amerika Serikat justru memberi sinyal longgar. Persediaan minyak mentah AS dilaporkan naik tajam 8,5 juta barel pada pekan lalu dan menjadi yang tertinggi sejak Juni, menurut data resmi EIA—angka yang biasanya menekan harga karena mengindikasikan pasokan menumpuk. Namun kali ini, “headline risk” dari Timur Tengah lebih dominan menahan tekanan tersebut.
Pasar juga menunggu laporan bulanan International Energy Agency (IEA) yang berpotensi kembali menyoroti risiko surplus global tahun ini—narasi yang belakangan sering muncul dari sejumlah bank besar. Dengan kata lain, fundamental suplai masih berpotensi menjadi rem, tetapi untuk saat ini, arah harga lebih banyak ditarik oleh geopolitik dan persepsi risiko gangguan pengiriman.
Sementara itu, perhatian juga tertuju pada Venezuela. Pernyataan pejabat energi AS menyebut ada pembelian minyak Venezuela oleh China yang sebelumnya dibeli pihak AS, menggarisbawahi bagaimana arus minyak dan kebijakan energi makin berkelindan dengan dinamika geopolitik.
Dari sisi struktur pasar, spread prompt Brent masih berada dalam pola backwardation (harga kontrak terdekat lebih tinggi daripada kontrak berikutnya), sebuah sinyal bahwa kondisi jangka pendek masih relatif ketat meski isu stok dan surplus membayangi.
Brent untuk penyelesaian April tercatat naik 0,3% ke US$69,60 per barel pada 10:47 waktu Singapura, sementara WTI untuk pengiriman Maret menguat 0,4% ke US$64,86.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id