Minyak Naik Lagi, Pasar Tetap Waspada Iran
Harga minyak menguat untuk hari kedua, karena pelaku pasar kembali menimbang risiko geopolitik di Timur Tengah—khususnya ketegangan Amerika Serikat dan Iran—yang menutup perhatian pada sinyal pasokan yang mulai membengkak. WTI bergerak mendekati $65/barel, sementara Brent bertahan di area $69/barel setelah menutup sesi sebelumnya lebih tinggi.
Sentimen tetap sensitif terhadap headline negosiasi nuklir. Meski Presiden AS Donald Trump menyatakan tujuan utamanya adalah mencapai kesepakatan dengan Teheran, pasar masih melihat risiko eskalasi—termasuk kemungkinan serangan militer—yang bisa mengganggu arus pasokan dari kawasan. Faktor ini menjaga “premi risiko” tetap melekat pada harga minyak.
Di sisi suplai, data resmi AS menunjukkan persediaan minyak mentah melonjak 8,5 juta barel pekan lalu menjadi sekitar 428,8 juta barel, level tertinggi sejak Juni. Kenaikan stok sebesar itu biasanya menekan harga, tetapi kali ini dampaknya tertahan karena fokus pasar masih berat ke geopolitik.
Pelaku pasar juga menanti laporan bulanan International Energy Agency (IEA) yang berpotensi kembali menyoroti risiko surplus global. Di saat yang sama, OPEC menegaskan prospek permintaan minyak untuk crude OPEC+ diperkirakan turun pada kuartal II, sehingga narasi “pasokan longgar” masih menjadi penahan kenaikan lebih agresif.
Dari sisi produksi, OPEC+ melaporkan output aliansi turun pada Januari—turun sekitar 439.000 bph dibanding Desember—sebagian terkait penurunan di beberapa negara produsen. Namun, pasar menilai faktor ini belum cukup menghapus kekhawatiran pasokan berlebih jika permintaan melemah atau jika produksi kembali naik.
Pada perdagangan pagi di Asia, WTI Maret tercatat sekitar $64,90–$64,97/barel (naik sekitar 0,4%–0,5%) dan Brent April bertahan setelah penutupan sebelumnya di $69,40/barel. Pergerakan lanjutan masih akan sangat ditentukan oleh kombinasi headline Iran–AS dan pembacaan pasar atas data stok serta outlook lembaga energi global.(asd)
Sumber: Newsmaker.id