Ketegangan Iran Angkat Harga Minyak, Isu Surplus Tersingkir
Harga minyak menguat pada Rabu setelah ketegangan Timur Tengah kembali mendominasi sentimen pasar, mengalahkan kekhawatiran mengenai potensi kelebihan pasokan. Fokus utama tertuju pada risiko eskalasi terkait Iran—mulai dari wacana pengetatan penegakan sanksi hingga kemungkinan penguatan kehadiran militer AS di kawasan, yang semuanya menambah “premi risiko” pada harga minyak.
Pada pembaruan harga terakhir, Brent diperdagangkan di sekitar $70,26 per barel (+2,12%), menandai penguatan yang membawa Brent kembali di atas $70. Sementara itu, WTI juga menguat dan berada di kisaran $64,88 per barel (+1,44%) pada pembaruan terbaru Rabu.
Pasar menilai sejumlah headline sebagai pemicu utama, termasuk laporan bahwa AS mempertimbangkan langkah-langkah lebih agresif terhadap pengiriman minyak Iran (misalnya potensi tindakan terhadap tanker yang membawa kargo terkait Iran). Di saat yang sama, muncul pula spekulasi tentang opsi pengiriman tambahan kekuatan laut AS ke kawasan jika jalur diplomasi nuklir menemui jalan buntu—membuat risiko gangguan pasokan kembali diperhitungkan.
Namun, dari sisi fundamental pasokan, kekhawatiran surplus belum hilang. Pelaku pasar kini menanti data resmi persediaan minyak AS (EIA) untuk mengonfirmasi laporan industri yang menyebut stok minyak mentah AS melonjak 13,4 juta barel pada pekan terakhir. Jika terkonfirmasi, itu akan menjadi lonjakan terbesar dalam hitungan barel sejak November 2023 dan berpotensi membatasi reli bila fokus pasar bergeser dari geopolitik ke stok.
Selain EIA, pasar juga mencermati laporan bulanan OPEC dan pembaruan outlook dari IEA. IEA sebelumnya menyoroti risiko surplus jika pertumbuhan pasokan melampaui permintaan—narasi yang berlawanan dengan dorongan geopolitik hari ini. Karena itu, pergerakan minyak berpotensi tetap volatil: headline Iran dapat mendorong lonjakan cepat, tetapi data stok dan proyeksi surplus bisa memicu koreksi mendadak.(alg)
Sumber: Newsmaker.id