Minyak Naik Meski Stok AS Melonjak, Risiko Iran Membesar
Harga minyak menguat pada perdagangan Rabu, ketika ketegangan Timur Tengah yang berpusat pada Iran kembali mendominasi sentimen pasar, mengalahkan sinyal negatif dari lonjakan persediaan minyak mentah di Amerika Serikat. Investor menilai risiko geopolitik kini lebih menentukan arah harga dibanding data stok jangka pendek.
Minyak acuan Brent kembali bergerak di atas $69 per barel, sementara WTI bertahan di sekitar $65 per barel. Pada pukul 11:57 waktu Singapura, Brent kontrak April naik 0,8% ke $69,36, dan WTI kontrak Maret naik 0,9% ke $64,52.
Penguatan ini dipicu serangkaian laporan yang meningkatkan “premi risiko”. Di antaranya, kabar bahwa AS mempertimbangkan langkah untuk menyita tanker yang membawa minyak mentah Iran, serta kemungkinan pengiriman kelompok kapal induk tambahan ke kawasan bila negosiasi program nuklir Iran gagal. Situasi ini membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan skenario gangguan suplai maupun respons balasan dari Teheran.
Dari sisi fundamental AS, laporan American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah naik 13,4 juta barel pekan lalu. Jika angka ini dikonfirmasi data resmi, kenaikan tersebut akan menjadi yang terbesar sejak November 2023—faktor yang biasanya menekan harga karena mengindikasikan suplai bertambah atau permintaan melunak.
Agenda politik juga menambah ketidakpastian. Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran “ingin membuat kesepakatan” namun menekankan konsekuensi bila negosiasi berjalan buruk. Trump dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih, dan pihak Netanyahu disebut mendorong pembahasan yang lebih luas—tak hanya nuklir, tetapi juga kemampuan senjata jarak jauh dan jaringan proksi regional. Pelaku pasar menilai pertemuan ini meningkatkan risiko headline, meski harga minyak kerap mereda bila tidak ada langkah konkret lanjutan.
Ke depan, pasar menanti laporan bulanan OPEC tentang prospek permintaan dan pasokan global, disusul analisis International Energy Agency (IEA) pada Kamis. IEA sebelumnya menyoroti potensi surplus bila pertumbuhan pasokan melampaui permintaan—sebuah faktor yang bisa menjadi penyeimbang di tengah narasi geopolitik yang saat ini mendorong harga.(asd)
Sumber : Bloomberg.com