Minyak Cenderung Stabil, Pasar Nunggu Kepastian Iran & Data AS
Harga minyak sedikit melemah pada Selasa (10/2) karena pelaku pasar masih “menahan diri” menunggu arah yang lebih jelas—mulai dari kabar hubungan diplomatik AS–Iran, upaya mengakhiri perang Rusia–Ukraina, sampai rilis data ekonomi AS dan laporan persediaan minyak.
Kontrak Brent turun tipis 22 sen (0,32%) ke $68,82/barel, sementara WTI melemah 37 sen (0,57%) ke $63,99/barel.
Menurut analis Gelber & Associates, trader cenderung ragu untuk mendorong harga naik atau turun sebelum ada sinyal yang benar-benar tegas dari jalur diplomasi, data stok berikutnya, atau bukti bahwa aliran pasokan benar-benar terganggu—bukan cuma sekadar “diancam” terganggu.
Dari pihak Iran, juru bicara Kementerian Luar Negeri mengatakan pembicaraan nuklir dengan AS memberi ruang bagi Teheran untuk menilai keseriusan Washington, dan ada cukup kesepahaman untuk melanjutkan jalur diplomasi. Pekan lalu, diplomat AS dan Iran melakukan pertemuan lewat mediator di Oman, setelah Presiden AS Donald Trump menempatkan armada laut di kawasan tersebut—yang memicu kekhawatiran eskalasi militer.
Analis PVM, Tamas Varga, menilai pasar masih fokus pada ketegangan AS–Iran. Tapi kalau belum ada tanda konkret gangguan pasokan, harga berpotensi perlahan bergerak turun.
Kuncinya ada di Selat Hormuz: sekitar seperlima konsumsi minyak dunia lewat jalur ini. Mayoritas ekspor minyak Iran dan beberapa anggota OPEC seperti Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Irak juga melintas di sana (utama ke Asia). EIA menyebut Iran adalah produsen minyak mentah terbesar ke-3 di OPEC pada 2025, setelah Saudi dan Irak.
Di sisi geopolitik lain, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas menyatakan akan mengusulkan daftar “konsesi” yang harus diminta Eropa dari Rusia dalam skema penyelesaian perang Ukraina—bagian dari upaya menekan pendapatan Rusia. EIA juga mencatat Rusia adalah produsen minyak terbesar ke-3 dunia pada 2025, di bawah AS dan Saudi.
Sementara itu, India mulai mengurangi ketergantungan pada minyak Rusia: Indian Oil Corp disebut membeli 6 juta barel dari Afrika Barat dan Timur Tengah, seiring dorongan New Delhi mengejar kesepakatan dagang dengan Washington.
Dari Amerika Latin, EIA memperkirakan perluasan lisensi AS dapat membantu memulihkan produksi minyak Venezuela hingga pertengahan 2026, kembali ke level sebelum blokade laut AS pada Desember.(yds)
Sumber: Reuters.com