Tensi Iran–AS Jaga Minyak di Jalur Hijau
Minyak masih bertahan di zona hijau di hari Selasa (10/2), karena pasar belum berani buang “premi risiko” Timur Tengah. Per pukul 13:07 GMT (20:07 WIB), Brent naik +0,4% ke $69,32/barel, sementara WTI naik +0,2% ke $64,51/barel.
Bensin utamanya tetap satu: Selat Hormuz. Otoritas maritim AS memberi panduan agar kapal berbendera AS yang melintas menjauh sejauh mungkin dari perairan teritorial Iran dan menolak secara verbal bila ada permintaan naik kapal dari aparat Iran. Meski cuma “guidance”, market bacanya sebagai sinyal risiko—karena Hormuz itu jalur krusial yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global.
Di saat yang sama, pembicaraan nuklir AS–Iran yang dimediasi Oman memang sempat bernada positif, tapi pelaku pasar menilai ketidakpastian eskalasi masih cukup untuk mempertahankan premi risiko kecil. Bahkan analis menilai, tanpa tanda gangguan suplai yang benar-benar nyata, harga berpotensi rawan turun lagi—tapi untuk sekarang “ketegangan” masih jadi pagar yang menahan koreksi.
Tambahan bumbu datang dari Eropa: Uni Eropa mengusulkan perluasan sanksi Rusia yang untuk pertama kalinya menarget pelabuhan di negara ketiga (Georgia & Indonesia) yang menangani minyak Rusia. Kalau paket ini lanjut, jalur logistik/layanan maritim bisa makin ketat—dan itu biasanya bikin pasar energi makin sensitif.
Ada juga cerita permintaan: Reuters menyebut Indian Oil membeli 6 juta barel dari Afrika Barat & Timur Tengah, saat India menghindari minyak Rusia di tengah manuver negosiasi dagang dengan Washington. Arus pembelian seperti ini ikut memperkuat kesan bahwa buyer lagi “ngamanin suplai” ketika headline geopolitik makin ramai. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id