AS Pegang “Keran” Venezuela, Harga Minyak Ikut Naik Tipis
Harga minyak naik tipis saat pelaku pasar mencerna langkah baru Amerika Serikat untuk memperketat kendali atas Venezuela. Brent kembali diperdagangkan di atas $60/barel setelah sempat turun sekitar 3% dalam dua sesi terakhir, sementara WTI bertahan di kisaran $56/barel.
Kenaikan ini terjadi ketika Washington menyiapkan rencana untuk mengelola penjualan minyak Venezuela secara berkelanjutan, termasuk strategi menjual stok minyak yang tersimpan (stored crude) lebih dulu, lalu berlanjut ke penjualan pasokan minyak Venezuela berikutnya. Pemerintah AS juga menyebut minyak tersebut sudah mulai dipasarkan.
Di sisi Venezuela, PDVSA menyatakan sedang bernegosiasi dengan Washington untuk skema penjualan yang mirip dengan kerangka kerja sama Chevron. Di bawah rencana itu, AS disebut akan memiliki sebagian kontrol terhadap proses penjualan PDVSA. Di saat yang sama, Presiden Donald Trump mendorong perusahaan AS untuk membangun kembali industri energi Venezuela yang melemah, dan dijadwalkan bertemu para eksekutif energi pada Jumat. Pemerintah AS juga mulai melonggarkan sanksi secara selektif sebagai bagian dari strategi tersebut.
Sejumlah perusahaan pun mulai bersiap. Citgo—kilang di AS yang secara tidak langsung dimiliki Venezuela—dilaporkan mempertimbangkan untuk melanjutkan pembelian lagi untuk pertama kalinya sejak pasokan terputus pada 2019 akibat sanksi. Trafigura disebut menunjukkan minat, sementara Chevron juga dikabarkan masih membahas perpanjangan izin operasinya di Venezuela.
Trump sebelumnya menyatakan Venezuela akan menyerahkan hingga 50 juta barel ke AS (nilai lebih dari $2 miliar), dengan kargo dijual dan hasilnya diklaim akan memberi manfaat bagi kedua pihak. Pendapatan penjualan disebut akan ditahan di akun US Treasury, dan pasar menilai arus minyak Venezuela akan mengalami “reroute” dan “reshuffle” yang dapat menjadi tema penting dalam beberapa waktu ke depan—dengan China diprediksi menjadi salah satu pihak yang paling terdampak.
China selama ini menjadi pembeli utama minyak Venezuela yang dijual dengan diskon besar pasca-sanksi, dan Beijing mengkritik tekanan AS sebagai tindakan “bullying”. Di sisi pasar, potensi ekspor Venezuela yang lebih tinggi menambah pasokan di tengah kondisi suplai global yang sudah longgar saat OPEC+ dan produsen lain meningkatkan produksi—bahkan harga crude Kanada sudah tertekan lebih dulu. Namun, blokade laut AS masih berjalan: AS kembali menyita dua tanker yang masuk sanksi, termasuk Bella 1 yang sempat menghindar dan akhirnya dicegat di selatan Islandia. Pada perdagangan siang di Singapura, Brent naik 0,5% ke $60,27, dan WTI naik 0,5% ke $56,27.
Inti Poin:
- Minyak naik tipis saat pasar menilai rencana AS mengelola penjualan minyak Venezuela secara berkelanjutan
- Brent kembali di atas $60, WTI bertahan di kisaran $56 setelah dua sesi pelemahan
- AS mulai dari penjualan stored crude, lalu lanjut ke pasokan Venezuela berikutnya; minyak disebut sudah dipasarkan
- PDVSA nego skema mirip Chevron; Citgo, Trafigura, dan Chevron ikut masuk radar langkah berikutnya
- Risiko suplai bertambah dan tensi geopolitik naik: AS lanjut blokade dan penyitaan tanker, China berpotensi paling terdampak(asd)
Sumber : Newsmaker.id