Minyak “Tarik-Ulur”, Venezuela Jadi Kunci
Harga minyak bergerak naik-turun pada Rabu (7/1), dengan pasar menimbang prospek aliran minyak Venezuela yang tetap lancar—terutama ke AS—di tengah sinyal bahwa Washington ingin “membiarkan minyak mengalir” dari negara tersebut. Di saat yang sama, sentimen ikut dipengaruhi kabar penyitaan kapal tanker berbendera Rusia di Atlantik Utara, yang menambah bumbu risiko geopolitik.
Pada perdagangan terbaru, Brent bertahan di area $60–$61/barel (terpantau sekitar $60,81), setelah sebelumnya sempat turun ke $59,88. Sementara WTI berada di kisaran $56/barel (sekitar $56,35–$56,46).
Tekanan awal muncul setelah Trump menyebut otoritas sementara Venezuela siap mengalirkan 30–50 juta barel minyak “yang terkena sanksi” ke AS. Reuters juga melaporkan komentar Menteri Energi AS Chris Wright yang menegaskan pemerintah ingin minyak Venezuela kembali mengalir, dengan skema pendapatan ditaruh dalam akun yang dikontrol AS—narasi yang dibaca pasar sebagai potensi suplai bertambah di tengah kekhawatiran oversupply 2026.
Di sisi lain, perhatian pasar sempat beralih ke kabar AS menyita tanker Marinera (sebelumnya dikenal sebagai Bella 1) di Atlantik Utara. Aksi ini mempertegas bahwa faktor geopolitik masih bisa muncul tiba-tiba dan memicu volatilitas, meski sejauh ini pasar minyak lebih dominan digerakkan oleh isu pasokan dan permintaan.
Dengan kombinasi sinyal “suplai Venezuela mengalir” dan headline geopolitik, pergerakan minyak cenderung choppy: turun saat pasar mengantisipasi suplai bertambah, lalu menahan pelemahan ketika risiko geopolitik ikut naik. Fokus berikutnya ada pada detail implementasi aliran minyak Venezuela dan data persediaan AS—dua hal yang bisa menentukan apakah tekanan oversupply makin kuat atau mulai mereda. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id