Minyak Jatuh Meski Dunia Panas oleh Konflik dan Politik Global!
Harga minyak dunia kembali turun tajam setelah para pedagang mulai mempertimbangkan kemungkinan berakhirnya perang Rusia‑Ukraina. Minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan mendekati $57 per barel, setelah sebelumnya turun sekitar 2% dari level penutupan hari sebelumnya. Sementara itu, Brent juga berada di bawah $61 per barel, mencerminkan sentimen pasar yang lebih berhati‑hati. Para pelaku pasar menilai bahwa jika perang berhenti, itu bisa membuka kembali ekspor minyak Rusia yang selama ini dibatasi oleh sanksi.
Perkembangan ini muncul setelah sekutu AS dan Ukraina dilaporkan mencapai kesepakatan tentang rencana jaminan keamanan bagi Kyiv dalam pertemuan di Paris. Para pedagang minyak melihat kemajuan tersebut sebagai sinyal bahwa konflik bisa mereda lebih cepat dari yang diperkirakan, sehingga tekanan harga menjadi lebih kuat karena prospek lonjakan pasokan. Jika sanksi terhadap minyak Rusia dicabut, pasokan global bisa meningkat pesat, menambah kelebihan pasokan yang sudah membebani pasar.
Di sisi lain, meskipun terjadi penggulingan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan Amerika Serikat, pasar minyak justru tidak bereaksi dengan lonjakan harga. Banyak analis berpendapat bahwa geopolitik Venezuela mungkin justru bisa meningkatkan produksi minyak negara itu di masa depan jika kebijakan embargo diubah, yang kemudian menambah tekanan terhadap harga. Pelaku pasar kini mulai berdiskusi dengan AS tentang kemungkinan membeli kembali minyak mentah Venezuela.
Situasi ini menunjukkan bahwa sentimen pasar minyak saat ini lebih dipengaruhi oleh prospek pasokan dan geopolitik jangka panjang daripada gangguan jangka pendek. Meski konflik global masih berlangsung, harapan akan perdamaian di Eropa Timur dan potensi perubahan kebijakan energi di Amerika Latin membuat harga minyak tetap turun dan memperlemah pasar secara umum. (az)
Sumber: Newsmaker.id