Ditengah Kekhawatiran Surplus: Minyak Melemah 1%
Harga minyak melemah pada Selasa (6/1), ketika pasar kembali fokus pada cerita besar 2026: pasokan global yang dinilai bakal longgar. Ketidakpastian soal Venezuela usai penangkapan Nicolás Maduro oleh AS memang jadi perhatian, tapi pelaku pasar menilai risiko itu belum cukup untuk mengubah keseimbangan suplai-permintaan dalam waktu dekat.
Pada perdagangan siang waktu AS, Brent turun 1,1% ke US$61,07 per barel, sementara WTI turun 1,4% ke US$57,53. Analis PVM Oil Tamas Varga mengatakan masih terlalu dini menilai dampak penangkapan Maduro terhadap neraca minyak, namun satu hal terlihat jelas: pasokan 2026 diperkirakan tetap memadai, baik ada tambahan produksi Venezuela maupun tidak.
Morgan Stanley memperkirakan pertumbuhan permintaan minyak global tahun lalu sekitar 900 ribu barel per hari, lebih rendah dari tren historis 1,2 juta bph. Di sisi suplai, bank itu mencatat produksi OPEC naik 1,6 juta bph dan non-OPEC naik 2,4 juta bph antara kuartal IV 2024 dan kuartal IV 2025—membuat 2026 dimulai dengan posisi suplai yang sangat kuat. Imbasnya, pasar berisiko masuk surplus hingga 3 juta bph pada paruh pertama 2026.
Nada hati-hati juga muncul dari survei Reuters pada Desember: pelaku pasar menilai harga minyak tahun ini berpotensi tertekan karena suplai bertambah saat permintaan tak cukup agresif. Fokus berikutnya ada pada data persediaan AS—API merilis estimasi stok pada Selasa malam waktu setempat, disusul data resmi pemerintah pada Rabu. Jika stok kembali naik, tekanan ke harga bisa berlanjut.
Isu Venezuela tetap jadi variabel tambahan. Penangkapan Maduro membuka spekulasi soal masa depan embargo minyak Venezuela dan peluang kenaikan output. Namun menurut Rystad Energy, tambahan pasokan yang realistis dalam 2–3 tahun ke depan kemungkinan hanya sekitar 300 ribu bph dengan belanja tambahan terbatas—sementara skenario produksi besar membutuhkan komitmen modal internasional dan waktu panjang.(yds)
Sumber: Reuters.com