• Thu, Jan 15, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Indonesia News Portal for Traders | Financial & Business Updates

6 January 2026 19:23  |

Geopolitik Panas, Tapi Minyak Tetap Ditahan Surplus

Harga minyak bergerak naik tipis pada perdagangan terbaru, melanjutkan penguatan setelah mencatat kenaikan harian terbesar dalam sepekan. Namun arah pasar masih “setengah hati” karena pelaku pasar menimbang dua narasi besar yang saling bertabrakan: risiko geopolitik yang kembali mencuat versus kekhawatiran surplus pasokan global yang belum juga hilang.

Di pasar Eropa, Brent bertahan di sekitar US$62 per barel setelah menguat sekitar 1,7% pada sesi sebelumnya. Perhatian masih tertuju pada perkembangan Venezuela pasca tumbangnya Nicolás Maduro, termasuk rencana pembicaraan antara pihak industri dan Washington terkait masa depan sektor energi Venezuela. Di saat yang sama, tensi Timur Tengah ikut memanaskan sentimen setelah Israel kembali menegaskan posisinya untuk tidak memberi ruang bagi Iran membangun ulang kemampuan rudal balistik.

Meski headline geopolitik ramai, pelaku pasar besar menilai kenaikan minyak tetap punya “batas” selama tidak ada gangguan pasokan nyata. Sejumlah pelaku industri menilai kontribusi tambahan barel dari Venezuela tahun ini kemungkinan kecil, sehingga dampaknya terhadap harga tidak akan langsung terasa besar dalam waktu dekat.

Faktor penahan utama tetap datang dari gambaran pasokan global yang longgar. Venezuela saat ini hanya menyumbang porsi kecil dari produksi dunia, sehingga gangguan ekspor pun dianggap tidak cukup untuk mengangkat harga secara berkelanjutan. Bahkan, tekanan surplus membuat Arab Saudi kembali memangkas harga minyak untuk Asia untuk bulan ketiga berturut-turut—sinyal bahwa persaingan suplai masih ketat.

Sejumlah bank investasi juga menilai surplus pasokan berpotensi membengkak pada semester pertama 2026 dan memuncak di pertengahan tahun. Ini menjadi alasan mengapa proyeksi harga untuk beberapa kuartal awal 2026 cenderung diturunkan, terlebih setelah harga minyak tahun lalu mencatat penurunan tahunan terbesar sejak 2020 seiring bertambahnya barel dari OPEC+ dan produsen lain.

Sementara itu, wacana “kebangkitan” energi Venezuela masih terus dipantau. Industri migas AS dikabarkan akan melakukan pembahasan dengan pemerintah, dan Menteri Energi AS Chris Wright disebut ingin berdialog dengan eksekutif minyak terkait opsi menghidupkan kembali sektor tersebut. Presiden Donald Trump juga sempat memberi sinyal adanya dukungan finansial untuk mempercepat pemulihan infrastruktur—yang membuat saham perusahaan minyak AS sempat menguat.

Pada perdagangan pagi di London, Brent untuk pengiriman Maret naik sekitar 0,4% ke US$62,01 per barel. WTI untuk pengiriman Februari berada di sekitar US$58,55 per barel, mencerminkan pasar yang masih mencoba mencari keseimbangan antara headline geopolitik dan realita surplus pasokan.(alg)

Sumber: Newsmaker.id

Related News

OIL

Harga Minyak Naik Dua Hari Beruntun, Ditopang Optimisme Daga...

Minyak naik untuk hari kedua di tengah optimisme atas perundingan perdagangan AS menjelang batas waktu minggu depan, dan kare...

25 July 2025 10:56
OIL

Brent Terombang-ambing, Pasar Bingung Antara Sanksi dan Paso...

Harga minyak mengalami pergerakan yang tidak stabil pada hari Selasa (15/07), di tengah ketidakpastian pasar atas dampak kebi...

15 July 2025 21:42
OIL

Minyak Dunia Tertahan

Harga minyak sedikit berubah setelah mengalami penurunan beberapa minggu yang lalu, dengan hubungan pedagang dampak dari sank...

22 September 2025 07:39
OIL

Pasokan Tambah, Ekspor Turun: Drama Baru Harga Minyak Dimula...

Harga minyak dunia pada Rabu (2/7) nyaris tak berubah karena pasar menimbang berbagai faktor, mulai dari rencana peningkatan ...

2 July 2025 16:19
BIAS23.com NM23 Ai