• Mon, Mar 23, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

23 March 2026 15:30  |

Emas dan Perak Terpukul, Risiko Inflasi Energi Picu Pengetatan

Emas dan perak jatuh tajam ketika perang di Timur Tengah memperdalam kekhawatiran inflasi dan mendorong pasar mem-price in suku bunga lebih tinggi. Emas spot sempat merosot hingga 8,8% mendekati US$4.100 per ons, menghapus kenaikan sepanjang tahun, sementara perak sempat turun lebih dari 10%. Tekanan utama datang dari lonjakan energi yang memperkecil peluang pelonggaran dan memperbesar risiko pengetatan oleh bank sentral, menjadi beban bagi logam mulia yang tidak memberi imbal hasil.

Aksi jual juga dipicu kebutuhan likuiditas. Sejumlah pelaku pasar menilai emas menghadapi “isu likuiditas”, karena investor menjual aset untuk mengumpulkan kas dan menutup kerugian di tempat lain. Eskalasi geopolitik ikut menambah tekanan setelah Presiden AS Donald Trump memberi tenggat dua hari agar Iran membuka Selat Hormuz, sementara Iran mengancam menutup jalur itu “sepenuhnya” dan menargetkan infrastruktur energi, IT, serta desalinasi jika fasilitasnya diserang.

Tanda “wash-out” terlihat di instrumen derivatif dan produk investasi. Open interest emas berjangka Comex turun ke level terendah sejak 2018, menandakan pembersihan posisi spekulatif. Kepemilikan ETF berbasis emas juga berbalik menjadi arus keluar bersih sekitar 11 ton sejak awal tahun, memperkuat tekanan ketika permintaan institusional melemah.

Meski magnitudo penurunan bukan tanpa preseden, sejumlah analis menekankan kecepatannya lebih cepat dibanding banyak episode historis. Dalam tiga pekan sejak perang pecah pada 28 Februari, penurunan emas ikut dipicu penjualan paksa di tengah volatilitas besar pada minyak dan ekuitas. Emas sendiri ditutup tahun lalu di US$4.319,37 dan sempat mencetak rekor di atas US$5.595 pada akhir Januari, sebelum berbalik tajam.

BNP Paribas mencatat pola “macro shock” serupa pernah terlihat pada 2008, 2020, dan 2022: emas sering turun pada fase awal ketika investor mengejar dolar, lalu berpotensi pulih dalam reli yang lebih berkelanjutan. Namun untuk jangka pendek, indikator momentum menunjukkan tekanan masih ekstrem; RSI 14 hari berada di bawah 30, area yang sering dibaca sebagai oversold meski tidak otomatis berarti pembalikan.

Pada 08:12 pagi di London, emas spot turun 5,7% ke US$4.240,71 per ons. Perak turun 4,5% ke US$64,93, sementara platinum dan paladium juga melemah. Indeks spot dolar Bloomberg naik 0,3%, menambah tekanan pada komoditas berdenominasi dolar.

Sumber: Bloomberg.com

Related News

GOLD

Harga Emas Melemah, Pasar Tunggu Keputusan The Fed

Harga emas dunia (XAU/USD) bergerak melemah di sekitar $3.335 per ons pada awal sesi Eropa hari Senin, setelah sempat mencoba...

28 July 2025 16:23
GOLD

Setelah Melambung, Emas Kini Terancam Tenggelam?

Harga emas batangan bergerak melemah dan diperkirakan mencatat kerugian mingguan kedua berturut-turut setelah pasar global me...

27 June 2025 12:22
GOLD

Di Tengah Pasar Sepi, Emas Melemah Tajam, Ada Apa?

Harga emas melemah sekitar 1,5% pada sesi Asia hari ini, meskipun aktivitas pasar regional cenderung terbatas karena libur Ta...

16 February 2026 12:41
GOLD

Bitcoin Jebol, Emas Kena Getahnya

Emas melemah di awal sesi Asia Kamis, ikut terseret gelombang jual yang bermula dari pasar kripto. Spot gold turun ke kisaran...

6 February 2026 07:16
BIAS23.com NM23 Ai