Emas Terseret Kuatnya Dolar dan Imbal Hasil AS, Tapi Geopolitik Masih Jadi Tameng
Harga emas tergelincir di bawah level psikologis $4.200 per troy ounce pada perdagangan Senin (8/12) sesi AS, seiring penguatan Dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Pasangan XAU/USD sempat menyentuh tertinggi intraday di sekitar $4.218, sebelum berbalik melemah ke kisaran $4.180. Pelaku pasar terlihat menahan diri dan enggan menambah posisi baru menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve pada hari Rabu, yang akan menjadi rapat kebijakan terakhir The Fed di tahun 2025.
Pasar masih mengantisipasi pemangkasan suku bunga lanjutan yang berpotensi menurunkan Fed Funds Rate ke area 3,50%–3,75%. Namun, rilis data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) terbaru dan sinyal yang beragam dari pasar tenaga kerja membuat pelaku pasar mulai memperhitungkan bahwa The Fed bisa memilih jalur pelonggaran yang lebih pelan menuju 2026. Ekspektasi ini membantu menopang Dolar AS dan mengangkat yield obligasi, sehingga menekan minat terhadap emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Di sisi lain, faktor geopolitik tetap menjadi penopang bawah bagi emas. Perang Rusia–Ukraina yang masih berlarut, ditambah memanasnya tensi antara Thailand dan Kamboja, menjaga permintaan emas sebagai aset safe haven tetap hidup. Dalam konteks gaya Newsmaker, pergerakan emas saat ini mencerminkan tarik-menarik antara sentimen suku bunga dan ketidakpastian global: tekanan teknikal muncul saat dolar menguat, namun cerita besar emas sebagai pelindung nilai di tengah risiko geopolitik masih belum berakhir. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id