Emas Naik Tipis Seiring Pelemahan Dolar Jelang The Fed
Harga emas naik tipis pada hari Rabu (3/12), mendapat dukungan dari pelemahan dolar AS ketika investor menantikan pertemuan Federal Reserve minggu depan, di mana pemangkasan suku bunga secara luas telah diperkirakan.
Pada pukul 08:40 waktu timur AS (13:40 GMT), emas spot terakhir diperdagangkan naik 0,4% ke level $4.221,17 per troy ounce, dan kontrak Futures emas AS menguat 0,8% ke $4.252,90 per troy ounce.
Logam mulia tersebut sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi enam minggu di $4.264,29 per troy ounce awal pekan ini.
Pelemahan dolar membantu emas
Saat ini pasar memperkirakan sekitar 90% peluang terjadinya pemangkasan suku bunga pada pertemuan The Fed tanggal 9–10 Desember, menurut alat FedWatch milik CME.
Nada kebijakan yang cenderung dovish tersebut telah mendorong dolar AS melemah — Indeks Dolar AS turun menuju level terlemahnya sejak pertengahan November — sehingga membuat emas menjadi lebih menarik bagi pembeli luar negeri.
Pada saat yang sama, sinyal pelemahan dari data ekonomi AS telah memperkuat spekulasi mengenai pemangkasan suku bunga.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) bulan September yang tertunda dan dijadwalkan keluar pada hari Jumat, yang merupakan ukuran inflasi favorit The Fed.
Potensi perubahan kepemimpinan The Fed menambah narasi dovish
Pasar juga berspekulasi mengenai potensi perubahan kepemimpinan di Federal Reserve. Laporan-laporan menyebutkan bahwa Kevin Hassett, penasihat ekonomi Gedung Putih yang dikenal mendukung suku bunga lebih rendah, menjadi kandidat terdepan untuk menggantikan Ketua The Fed saat ini, Jerome Powell.
Kemungkinan tersebut menambah ekspektasi terhadap sikap kebijakan moneter yang lebih longgar di bawah kepemimpinan baru, sehingga semakin memperkuat daya tarik emas sebagai aset safe haven.
Bank sentral dunia tingkatkan pembelian emas
Bank-bank sentral global meningkatkan pembelian emas pada bulan Oktober, dengan menambah 53 ton secara bersih ke dalam cadangan mereka, menurut data Dewan Emas Dunia (World Gold Council).
“Ini menandai kenaikan 36% dibandingkan bulan September dan menjadi peningkatan bulanan terkuat sejak November 2024,” kata ING. “Pembelian sepanjang tahun ini mencapai 254 ton, laju yang lebih lambat dibanding tiga tahun sebelumnya karena harga yang lebih tinggi menahan permintaan.”
Polandia tetap menjadi pembeli utama, memimpin baik pada bulan Oktober maupun sepanjang tahun dengan total 83 ton. Setelah jeda lima bulan, Bank Nasional Polandia kembali melanjutkan pembelian dengan menambah 16 ton bulan lalu dan mengangkat total kepemilikan emasnya menjadi 531 ton, atau 26% dari total cadangan.
Brasil menyamai pembelian Polandia di bulan Oktober. Negara itu menambah 16 ton untuk bulan kedua berturut-turut, sehingga cadangan emasnya naik menjadi 161 ton (sekitar 6% dari total cadangan).
Bank sentral Tiongkok, pembeli besar lainnya, melaporkan pembelian emas selama 12 bulan berturut-turut, dengan tambahan 0,9 ton pada bulan Oktober, sehingga total kepemilikannya naik menjadi 2.304 ton.
Sebaliknya, Rusia menjadi satu-satunya penjual pada bulan tersebut, memangkas kepemilikan emasnya sebanyak 3 ton.
Pasar logam lainnya cenderung lesu
Logam mulia dan logam industri lainnya diperdagangkan dalam rentang yang sempit pada hari Rabu karena investor memilih menepi menjelang keputusan The Fed.
Kontrak berjangka perak naik 1,1% ke $59,345 per troy ounce, sedikit di bawah rekor tertinggi $59,65. Futures platinum turun 1,7% ke $1.655,0 per troy ounce.
Kontrak berjangka tembaga acuan di London Metal Exchange naik 2,3% ke $11.445,0 per ton, sementara kontrak berjangka tembaga AS menguat 2,8% ke $5,3890 per pon.(yds)
Sumber: Investor.com