ECB Tahan Rate: Lagarde Soroti Digital, Upah, dan Risiko Perang Dagang
Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde menegaskan bahwa keputusan menahan suku bunga pada pertemuan Februari diambil karena kondisi ekonomi zona euro masih bergerak “campur aduk”: ada sektor yang menunjukkan daya tahan, tapi ketidakpastian global tetap jadi bayang-bayang.
Lagarde menjelaskan pada pidato nya hari Kamis (5/2), motor pertumbuhan masih banyak ditopang sektor jasa, terutama aktivitas yang terkait teknologi seperti TI/digital. Di saat yang sama, sektor manufaktur dinilai cukup tangguh, sementara konstruksi mulai memperlihatkan perbaikan momentum dibanding periode sebelumnya.
Dari sisi permintaan, ECB melihat beberapa penopang mulai terbentuk. Belanja pemerintah diperkirakan akan ikut membantu mengangkat konsumsi dan permintaan domestik. Selain itu, investasi bisnis juga diharapkan membaik—terutama karena semakin banyak perusahaan yang mengalihkan belanja modalnya ke teknologi digital.
Untuk inflasi, Lagarde menekankan bahwa indikator inflasi inti relatif tidak banyak berubah. Namun, sinyal ke depan menunjukkan tekanan biaya mulai melunak: sejumlah indikator dan survei mengarah pada moderasi biaya tenaga kerja yang berlanjut, sebuah faktor yang penting bagi arah inflasi beberapa bulan ke depan.
Ia juga menyoroti bahwa mayoritas ukuran ekspektasi inflasi jangka panjang masih berada di sekitar 2%, yang berarti pasar belum melihat risiko inflasi “lepas kendali”. Tapi ECB tetap tidak mau terburu-buru karena jalur inflasi masih bisa dipengaruhi banyak kejutan.
Lagarde menutup dengan catatan risiko: zona euro sedang berada dalam lingkungan kebijakan global yang bergejolak. Ketidakpastian bisa menahan belanja dan investasi, sementara gesekan perdagangan internasional berpotensi mengganggu rantai pasok dan menekan ekspor—dua hal yang bisa membuat pemulihan ekonomi berjalan tidak mulus. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id