Trump dan Xi Jinping Akan Bahas Tarif, Teknologi, dan Keamanan Global di Korea Selatan
Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung besok di Korea Selatan diperkirakan akan menjadi salah satu momen diplomatik paling penting tahun ini. Agenda pertemuan kedua pemimpin ini mencakup isu-isu strategis yang selama beberapa bulan terakhir menjadi sumber ketegangan ekonomi dan geopolitik dunia.
Menurut laporan Reuters dan The Guardian, topik utama yang akan dibahas mencakup perdagangan dan tarif, kontrol ekspor bahan baku strategis, isu keamanan regional, serta regulasi teknologi global. Pertemuan ini diharapkan menghasilkan peta jalan menuju stabilisasi hubungan bilateral antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut.
“Fokus utama kami adalah memastikan stabilitas rantai pasok dan mencegah eskalasi perang dagang,” kata seorang pejabat senior Gedung Putih yang enggan disebutkan namanya kepada Reuters. “Presiden Trump ingin membawa hubungan ekonomi AS–China ke arah yang lebih konstruktif, tanpa mengorbankan kepentingan nasional.”
Dari pihak Beijing, media resmi Xinhua melaporkan bahwa Presiden Xi menekankan pentingnya “kerja sama yang saling menguntungkan” serta menolak segala bentuk konfrontasi ekonomi. Ia juga diperkirakan akan menyoroti kebijakan ekspor China, terutama terkait bahan tambang langka (rare earths) yang menjadi komponen vital bagi industri teknologi global.
Selain isu perdagangan, keamanan regional juga menjadi salah satu bahasan utama. Amerika Serikat diperkirakan akan menyinggung soal Taiwan dan Laut China Selatan, sementara Tiongkok akan menyoroti perlunya stabilitas di Asia Timur. Dalam konteks global, kedua negara kemungkinan akan membahas juga perang Rusia–Ukraina dan dampaknya terhadap pasar energi dunia.
Bidang teknologi dan digitalisasi tak luput dari agenda. Isu mengenai pembatasan ekspor chip semikonduktor, serta pembahasan terkait platform digital seperti TikTok dan regulasi kecerdasan buatan (AI), disebut akan menjadi bagian dari dialog bilateral ini. Analis dari Newsweek menilai bahwa kesepakatan parsial dalam bidang ini dapat membuka peluang kerja sama baru di sektor teknologi antara dua negara tersebut.
Pertemuan ini juga akan menjadi tindak lanjut dari kerangka kerja sama awal yang disepakati di Malaysia pekan lalu, di mana kedua belah pihak sepakat untuk menunda penerapan tarif tambahan hingga 100% terhadap produk impor utama. “Ini adalah langkah awal untuk menurunkan tensi,” ujar Menteri Perdagangan AS, Linda Carver, dikutip dari Washington Post.
Pelaku pasar global kini menanti hasil konkret dari pertemuan tersebut, mengingat setiap kemajuan diplomatik berpotensi menggerakkan pasar emas, minyak, dan dolar AS. Jika kesepakatan dagang sementara tercapai, selera risiko investor kemungkinan meningkat — dan harga emas bisa kembali tertekan akibat arus modal ke aset berisiko.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id