Pemerintah Tutup Tapi Data CPI Dirilis — Apakah Data Tenaga Kerja dan PCE Juga Bisa?
Publik sempat dibuat heran pekan lalu ketika data inflasi Amerika Serikat (CPI) tetap dirilis oleh Bureau of Labor Statistics (BLS), padahal pemerintah federal masih dalam kondisi shutdown. Namun di balik rilis yang mengejutkan pasar itu, ada alasan teknis dan administratif yang memungkinkan sebagian lembaga ekonomi tetap bekerja.
Menurut laporan dari Departemen Tenaga Kerja AS, BLS termasuk lembaga yang dikategorikan sebagai “essential service” atau layanan esensial. Artinya, aktivitas mereka tetap dijalankan selama shutdown karena dianggap krusial bagi kebijakan moneter, keuangan, dan stabilitas ekonomi nasional. Data inflasi seperti CPI merupakan acuan utama bagi Federal Reserve dalam menentukan arah suku bunga.
Selain itu, BLS masih memiliki dana cadangan dari anggaran tahun fiskal sebelumnya, yang digunakan untuk menjaga kelangsungan publikasi data-data vital. Seorang pejabat BLS yang dikutip oleh Bloomberg menyebut bahwa dana darurat tersebut cukup untuk membiayai aktivitas statistik selama beberapa minggu meski kongres belum menyetujui anggaran baru.
Menariknya, data CPI yang dirilis minggu lalu merupakan data untuk periode September 2025, yang sudah dikumpulkan dan diproses sebelum shutdown dimulai. Karena itu, publikasinya tetap bisa dilakukan sesuai jadwal, meskipun sebagian besar aktivitas pemerintahan federal telah berhenti.
Namun, kondisi ini tidak menjamin bahwa semua data ekonomi lain akan tetap dirilis. Lembaga seperti Bureau of Economic Analysis (BEA) dan Census Bureau, yang bertanggung jawab atas publikasi data PCE inflation (Personal Consumption Expenditures) dan laporan ketenagakerjaan (NFP), berada dalam posisi lebih sulit karena tidak sepenuhnya dikategorikan sebagai layanan esensial.
Seorang analis dari Reuters memperkirakan bahwa data PCE dan laporan ketenagakerjaan bulan berikutnya berpotensi tertunda jika kebuntuan anggaran di Kongres terus berlanjut. “Data CPI bisa keluar karena sistemnya sudah jalan sebelum shutdown, tetapi PCE dan NFP berikutnya akan sulit dipublikasikan tepat waktu tanpa pembukaan pemerintahan,” jelas laporan tersebut.
Kondisi ini menambah ketidakpastian bagi pelaku pasar, terutama menjelang keputusan suku bunga The Fed minggu depan. Bank sentral AS selama ini sangat bergantung pada dua data utama — inflasi dan tenaga kerja — untuk menentukan arah kebijakan moneter. Jika data baru tertunda, ruang analisis The Fed bisa menjadi lebih sempit.
“Pasar akan bergerak dengan volatilitas tinggi jika data ekonomi mulai macet,” ujar ekonom senior Wells Fargo, Sarah Johnson, kepada CNBC. “Tanpa data tenaga kerja dan PCE, keputusan Fed bisa lebih bersandar pada ekspektasi, bukan fakta.”
Dengan kata lain, meski publikasi CPI minggu lalu memberi sedikit kejelasan, ketidakpastian pasar tetap tinggi selama shutdown belum berakhir dan data ekonomi penting lainnya masih tertahan di meja birokrasi.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id