Trump Sebut Damai Iran Dibahas di Doha
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pembicaraan damai dengan Iran akan dilanjutkan pada Selasa di Doha, Qatar. Pernyataan ini muncul setelah kedua negara sepakat menghentikan rangkaian serangan balasan di sekitar Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan energi dunia.
Dalam unggahannya di Truth Social, Trump menyebut Iran telah meminta pertemuan dan pembahasan akan dilakukan di Doha. Namun, rincian putaran negosiasi baru tersebut belum dikonfirmasi secara resmi oleh kedua pihak. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi sebelumnya menyatakan belum ada jadwal pasti dan belum memastikan Doha sebagai lokasi pertemuan.
Ketegangan terbaru bermula setelah Iran menyerang kapal kontainer berbendera Singapura di Selat Hormuz pada Kamis. Serangan itu mendorong Amerika Serikat melakukan balasan, lalu memicu aksi saling serang antara kedua negara. Washington dan Teheran kemudian saling menuduh telah melanggar kesepakatan yang sebelumnya dibuat.
Seorang pejabat AS mengatakan kedua pihak akan menghentikan pertempuran untuk sementara waktu agar kapal dapat kembali bergerak bebas melalui Selat Hormuz. Meski begitu, situasi keamanan masih rapuh setelah Iran meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan militer di Kuwait dan Bahrain. Kuwait menyatakan dua rudal berhasil dicegat tanpa menimbulkan kerusakan atau korban, sementara Bahrain melaporkan satu bangunan tempat tinggal terkena dampak, tetapi tidak ada korban jiwa.
Serangan terbaru ini menunjukkan bahwa gencatan senjata AS-Iran masih sangat rentan. Kondisi tersebut juga membuat pemilik kapal tetap berhati-hati untuk melintasi Selat Hormuz. Sebelum perang dimulai pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati jalur strategis tersebut.
Lalu lintas kapal di Selat Hormuz sempat meningkat setelah Trump menandatangani nota kesepahaman pada 17 Juni untuk mengakhiri perang. Namun, aktivitas kembali menurun pada akhir pekan karena hanya sedikit kapal yang berani melintas. Penurunan ini menunjukkan bahwa pelaku industri pelayaran masih melihat risiko keamanan sebagai ancaman besar.
Di sisi lain, Iran juga mulai membahas pengelolaan Selat Hormuz dengan Oman. AS, Eropa, dan negara-negara Teluk Arab semakin khawatir terhadap kemungkinan adanya biaya tambahan untuk penggunaan jalur air strategis tersebut. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya menegaskan bahwa pungutan atau biaya apa pun tidak dapat diterima.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Iran bertanggung jawab penuh atas pemulihan lalu lintas di Selat Hormuz. Ia memperingatkan bahwa campur tangan pihak lain justru berisiko memperburuk ketegangan. Sementara itu, gencatan senjata antara Israel, Lebanon, dan AS juga masih rapuh setelah kelompok Hizbullah yang didukung Iran menyebut kesepakatan tersebut batal.(gn)
Sumber: Newsmaker.id