Dari Tarif ke Iran, Gaya Negosiasi Trump Kembali Picu Ketidakpastian
Pasar global semakin menunjukkan sikap skeptis terhadap pola komunikasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam isu Iran, Trump sempat menyampaikan ancaman keras terhadap fasilitas energi Iran, namun kemudian memperpanjang tenggat serangan selama 10 hari sambil menyebut pembicaraan dengan Teheran berjalan “sangat baik.” Perubahan nada itu justru tidak langsung menenangkan pasar, karena investor melihat belum ada kepastian bahwa risiko konflik benar-benar mereda.
Bagi pelaku pasar, pola ini dinilai mengingatkan pada pendekatan Trump dalam isu tarif. Gaya yang dipakai terlihat serupa: tekanan keras di awal, disertai ancaman dan tenggat waktu, lalu diikuti penundaan, pelonggaran, atau perubahan arah ketika respons pasar maupun lawan negosiasi berkembang. Reuters melaporkan kekhawatiran atas konsistensi arah kebijakan AS bahkan sudah memengaruhi sikap mitra dagang dalam menyusun pengamanan tambahan pada kesepakatan ekonomi mereka dengan Washington.
Dalam konteks Iran, masalah utamanya bukan hanya pada isi pernyataan Trump, melainkan pada sinyal yang saling bertabrakan. Di satu sisi, ancaman serangan tetap ada. Di sisi lain, tenggat digeser dan optimisme soal diplomasi kembali ditekankan. Sementara itu, laporan lain tetap menunjukkan bahwa jalur negosiasi belum menghasilkan terobosan yang kuat. Kondisi ini membuat investor menilai setiap komentar baru dari Gedung Putih bukan sebagai kepastian, melainkan bagian dari proses negosiasi yang sewaktu-waktu bisa berubah lagi.
Dampaknya terlihat langsung pada perilaku pasar. Meski ancaman serangan ditunda, harga minyak tetap bertahan tinggi dan sentimen risiko global belum pulih sepenuhnya. Reuters melaporkan harga Brent masih berada di kisaran tinggi, menandakan premi risiko geopolitik belum keluar dari pasar. Artinya, investor belum sepenuhnya percaya bahwa penundaan tersebut identik dengan de-eskalasi yang nyata.
Bagi pasar, ketidakpastian seperti ini sering kali lebih mengganggu dibanding kabar buruk yang jelas. Jika arah kebijakan tegas, investor masih bisa menyesuaikan posisi. Namun ketika pernyataan berubah cepat, deadline bergeser, dan pesan politik bergerak antara ancaman dan optimisme, volatilitas cenderung bertahan lebih lama. Karena itu, pola komunikasi Trump saat ini dinilai bukan hanya memperumit pembacaan geopolitik, tetapi juga mengurangi kemampuan pasar untuk menilai arah kebijakan Amerika Serikat secara konsisten.
Dampak yang Perlu Diperhatikan
1. Volatilitas pasar berpotensi tetap tinggi
Pola pernyataan yang berubah dari ancaman keras ke penundaan membuat pelaku pasar sulit membaca arah kebijakan secara pasti. Kondisi itu terlihat dari tetap tingginya kehati-hatian investor meski Trump sudah menunda serangan ke fasilitas energi Iran hingga 6 April 2026.
2. Harga minyak cenderung tetap sensitif
Penundaan serangan belum otomatis menghapus premi risiko di pasar energi. Reuters melaporkan Brent masih berada di sekitar US$107,97 per barel pada Jumat, menunjukkan pasar tetap memasukkan risiko perang berkepanjangan dan potensi gangguan pasokan sebagai faktor utama.
3. Tekanan inflasi bisa bertahan lebih lama
Selama harga energi tetap tinggi, biaya logistik, transportasi, dan produksi berisiko terus tertekan. Reuters juga mencatat kekhawatiran atas konflik dan lonjakan energi ikut memperbesar kekhawatiran inflasi global.
4. Ekspektasi suku bunga bisa menjadi lebih ketat
Saat inflasi energi naik, ruang bank sentral untuk melonggarkan kebijakan menjadi lebih sempit. Reuters melaporkan lonjakan harga minyak akibat konflik telah memperumit prospek kebijakan moneter dan mengurangi harapan pemangkasan suku bunga, terutama karena risiko inflasi kembali menguat.
5. Saham teknologi dan aset berisiko rawan tertekan
Ketika minyak naik, inflasi menguat, dan yield terdorong lebih tinggi, sektor growth biasanya menjadi yang paling sensitif. Reuters melaporkan Nasdaq turun lebih dari 2% dan masuk wilayah koreksi, sementara saham teknologi memimpin pelemahan saat pasar merespons ketidakpastian konflik Iran.
6. Kredibilitas arah kebijakan AS ikut jadi sorotan
Jika pola “ancam dulu, tunda kemudian” terus berulang, pasar dan mitra dagang bisa semakin sulit memperlakukan pernyataan Washington sebagai panduan final. Reuters melaporkan Uni Eropa sampai menambahkan sejumlah safeguard dalam perjanjian dagang dengan AS karena kekhawatiran soal kepatuhan Washington setelah episode tarif sebelumnya.
7. Investor cenderung tetap defensif
Alih-alih memulihkan kepercayaan, perubahan nada yang terlalu cepat justru membuat investor memilih menunggu kepastian. AP mencatat penundaan terbaru dilakukan setelah pasar bergejolak, memperkuat kesan bahwa pasar akan tetap bereaksi hati-hati terhadap setiap headline baru dari Gedung Putih.(CP)
Sumber: Newsmaker.id