• Tue, Mar 24, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

24 March 2026 21:56  |

Kekhawatiran Fed Hike Muncul saat Konflik Iran Berlanjut

Imbal hasil obligasi (bond yields) bergerak lebih tinggi dan credit spread melebar ketika konflik Iran memasuki pekan keempat. Di tengah kondisi itu, sebuah pertanyaan yang kini mudah memancing debat panas di Wall Street adalah: apakah Federal Reserve akan menaikkan suku bunga?

Hal yang beberapa pekan lalu nyaris “tidak terpikirkan” kini mulai dibahas karena konflik Iran—serta penutupan efektif Selat Hormuz—memicu oil shock yang besar. Lonjakan harga minyak, saat permusuhan berlarut, memunculkan kekhawatiran inflasi bisa terus naik pada laju yang dianggap tidak nyaman, sehingga membuka ruang diskusi tentang potensi kenaikan suku bunga oleh The Fed.

Namun, sebagian analis menilai skenario paling mungkin tetap “Fed menahan” bukan “Fed menaikkan.” Gennadiy Goldberg, head of U.S. interest-rates strategy di TD Securities, mengatakan pandangan timnya adalah shock ini lebih mungkin membuat The Fed tetap hold, bukan outright hike. Meski begitu, ia menekankan kekhawatiran terbesar bank sentral adalah mengulang “kesalahan transitory” seperti periode sebelumnya—menganggap tekanan harga hanya sementara padahal bisa bertahan lebih lama.

Menurut CME FedWatch Tool, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada 2026 sempat berada di atas 20% pada Selasa. Peluang itu sempat turun pada Senin setelah Presiden Donald Trump menyatakan akan menahan serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran untuk memberi ruang pembicaraan—meski Iran membantah pembicaraan tersebut.

Harga minyak kembali menanjak. Brent kembali berada di atas $100 per barel pada Selasa setelah sempat turun di bawah level itu sehari sebelumnya. WTI juga menguat sekitar 4% di kisaran $91,5 per barel. Penutupan efektif Selat Hormuz mendorong kenaikan tajam harga minyak: berdasarkan data FactSet, kontrak minyak AS dan global masing-masing naik sekitar 60% dan 69% sepanjang tahun berjalan.

Dampak Hormuz tidak hanya soal minyak. Jalur ini juga mengangkut sekitar sepertiga pupuk dunia, menurut Dragonfly (unit intelijen risiko/keamanan yang berada di bawah perusahaan induk Dow Jones). Jika gangguan berkepanjangan, risiko inflasi pangan bisa naik, bahkan memicu instabilitas pangan—terutama jika penutupan menyebabkan musim tanam terlewat.

George Catrambone, head of fixed income Americas di DWS, menilai sebagian besar pasar saat ini sangat berkorelasi dengan minyak. Selain minyak dan pupuk, Hormuz juga jalur penting untuk logam, produk aluminium, dan tembaga. Ia menambahkan, ketika pertumbuhan upah AS sudah menunjukkan tanda melemah dan tabungan pribadi menipis, kenaikan harga minyak, gas, dan komoditas berpotensi menekan konsumsi paruh kedua tahun ini. “Ini membebani konsumen AS,” ujarnya.

Meski peluang Fed hike naik, Catrambone justru berada di kubu yang menilai The Fed pada akhirnya lebih mungkin menurunkan suku bunga untuk menopang ekonomi jika harga minyak bertahan tinggi—bukan menaikkan. Dengan kata lain, shock energi bisa menciptakan tarik-menarik: inflasi naik, tapi pertumbuhan dan konsumsi berisiko turun.

Sementara itu, kondisi keuangan sudah mengetat sejak AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari. Yield Treasury 10 tahun berada di sekitar 4,38% pada Selasa—naik dari bawah 4% pada Oktober (berdasarkan Dow Jones Market Data). Yield yang lebih tinggi berarti biaya pinjaman naik untuk rumah tangga, dunia usaha, dan pemerintah.

Perusahaan-perusahaan AS berperingkat tinggi juga disebut sudah “mendahului” kebutuhan pendanaan mereka pada dua setengah bulan pertama 2026. Kyle Stegemeyer dari U.S. Bank mengatakan ini ikut mendorong penerbitan obligasi mingguan mendekati rekor, disertai pelebaran spread kredit secara moderat. Secara umum, penerbitan obligasi baru dihargai dari yield Treasury sebagai dasar, lalu ditambah spread sebagai kompensasi risiko kredit.

Kenaikan biaya pinjaman ini bukan hanya soal Iran, tetapi juga kebutuhan pendanaan besar untuk pembangunan ekosistem AI. Amazon, Oracle, dan Alphabet sudah menerbitkan obligasi tahun ini untuk rencana AI mereka, sementara Meta dan Microsoft disebut bisa menyusul.

Matt Brill, head of North America investment-grade credit di Invesco, menggambarkan situasi ini seperti “setiap selesai satu penerbitan, pasar tetap menoleh ke belakang—khawatir ada gelombang berikutnya.” Di saat yang sama, pasar juga terus mengukur seberapa lama konflik Iran berlangsung dan apa dampaknya ke harga minyak. “Pasar jelas lebih suka ini selesai lebih cepat,” ujarnya.

Newsmaker Insight: meski pasar mulai membicarakan risiko Fed hike akibat inflasi energi, realitanya kondisi keuangan sudah lebih ketat—yield tinggi, spread melebar, dan biaya pinjaman naik. Selama Hormuz belum benar-benar normal dan oil shock terus menjaga inflasi panas, debat “Fed hold vs Fed hike vs Fed cut” akan tetap hidup, dengan pasar sangat sensitif pada headline konflik dan arah harga minyak.(mrv)

Sumber : Newsmaker.id

Related News

GLOBAL ECONOMY

Trump Berjanji untuk 'Segera' Bernegosiasi untuk Mengakhiri ...

Presiden Donald Trump mengumumkan pada hari Rabu bahwa ia dan pemimpin Rusia sepakat melalui panggilan telepon untuk "segera"...

13 February 2025 12:25
GLOBAL ECONOMY

Nonfarm Payrolls AS Naik 143.000 Pada Januari Vs. 170.000 Ya...

Nonfarm Payrolls (NFP) di AS naik 143.000 pada Januari, Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan pada hari Jumat. Angk...

7 February 2025 20:40
GLOBAL ECONOMY

Kanada Akan Mengumumkan Tarif Balasan Senilai C$29,8 Miliar ...

Kanada akan mengumumkan tarif balasan senilai C$29,8 miliar terhadap Amerika Serikat pada hari Rabu (12/3) sebagai tanggapan ...

12 March 2025 18:54
GLOBAL ECONOMY

Tiongkok Tegaskan AS Harus Membatalkan Tarif Sebelum Pembica...

Beijing menegaskan kembali seruannya kepada AS untuk membatalkan tarif sepihak terhadap Tiongkok, menggarisbawahi kebuntuan a...

8 May 2025 16:16
BIAS23.com NM23 Ai