Shutdown AS “Jilid Lanjut”: Masih Menggantung, Deadline Tinggal Hitungan Jam
Risiko shutdown lanjutan di AS masih menggantung per Kamis, 29 Januari 2026, karena tenggat pendanaan untuk sejumlah lembaga federal jatuh pada Jumat, 30 Januari. Jika Kongres gagal mencapai kesepakatan, shutdown parsial berpotensi dimulai Sabtu, 31 Januari (00:01 ET).
Pemicu utamanya adalah kebuntuan di Senat terkait pendanaan Department of Homeland Security (DHS). Pimpinan Demokrat di Senat, Chuck Schumer, menyatakan Demokrat menuntut pembatasan baru pada penegakan imigrasi (misalnya larangan masker, kewajiban bodycam, aturan penggunaan kekuatan, dan persyaratan surat perintah yang lebih ketat) sebagai syarat dukungan terhadap pendanaan DHS.
Di sisi lain, sebagian senator Republik disebut membuka peluang memisahkan pendanaan DHS dari paket lain untuk menghindari shutdown yang lebih luas, tetapi belum ada kepastian apakah opsi ini akan disetujui pimpinan partai dan Gedung Putih. Artinya, jalur kompromi masih ada—namun waktunya mepet dan tarik-ulur politik masih keras.
Dampak teknisnya mulai jadi perhatian lintas lembaga. Seorang pejabat peradilan memperingatkan operasional berbayar pengadilan federal bisa tidak sepenuhnya terjaga melewati 4 Februari bila pendanaan tidak disahkan, menambah tekanan agar solusi dicapai sebelum deadline.
Pengaruh ke dolar & emas: risiko shutdown biasanya membuat pasar masuk mode “risk-off” dan menambah ketidakpastian fiskal-politik AS—ini cenderung menekan dolar (terutama jika investor mengurangi eksposur aset AS) sekaligus mengangkat emas sebagai safe haven. Namun efeknya bisa tertahan jika ada “counter-story” seperti pernyataan pejabat yang mendukung kebijakan dolar kuat (yang sempat memberi napas ke USD). Jadi, selama isu shutdown belum beres, bias jangka pendeknya: USD rentan goyah, emas tetap mendapat dukungan.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id